KH. MASDAR FARID MAS’UDI

Berakar Pada Tradisi Bervisi Modern

Namanya belakangan semakin santer dibicarakan, ketika Rais Aam Syuriah PBNU KH Sahal Mahfudz lewat Qarar Syuriah tanggal 16 Mei 2004 di Rembang Jawa Tengah lalu menunjuknya sebagai pelaksana harian (PLH) PBNU menggantikan KH Hasyim Muzadi yang sementara non aktif karena menjadi kandidat capres PDIP.

Menurut sebuah sumber di Syuriah, kenapa yang ditunjuk sebagai PLH bukan dari jajaran Tanfidzyah, karena untuk mengemban peran Ketum PBNU, minimal harus memenuhi dua syarat: Pertama secara politik netral, bukan partisan. Kedua, memiliki kapasitas keilmuan agama. Ia harus mampu menjadi jubir NU sebagai Organisasi Keulamaan terbesar. Masdar, kata sumber itu, memenuhi kedua syarat yang dimaksud.

Keputusan ini tentu saja menyimpan “bola panas” baik untuk dirinya dan untuk NU secara institusi. Mau kemana arah NU dalam pilpres ketika itu, adalah pilihan sulit. Tarik menarik kepentingan baik ditubuh NU sendiri maupun dengan kekuatan politik di luar NU menjadikan NU dalam posisi dilematis. Namun, dengan ketenangan dan nalar kepemimpinannya tokoh yang terkenal dengan dua bukunya Agama Keadilan, Risalah Zakat [Pajak] Dalam Islam (1991), dan Islam dan Hak-Hak Reproduksi Wanita (1996) sanggup melewati masa transisi itu sehingga dalam pemilu pilpres pertama dan kedua NU secara institusi tetap netral.

Masdar yang ketika itu menjabat Wakil Katib Syuriah PBNU, mengakui serba dilematis, tapi keiginan untuk membangun kembali NU sebagai kekuatan moral bangsa, bukan sebagai kekuatan politik menjadi “mainstrem” gerakannya, karena NU adalah organisasi keulamaan yang kekuatan intinya pada otoritas moral. Keinginan dan semangat itulah yang membuatnya tetap konsisten menjaga “track” NU sesuai mandatnya untuk tidak dijadikan “kendaraan politik” sesaat. Tetapi, dalam situasi dilematis itu Masdar pun mengakui gamang dalam menghadapi pilihan-pilihan kebijakan ditengan situasi genting itu, dan yang terpenting, kata Masdar adalah bagaimana NU secara institusi selamat dari tarik menarik kekuatan politik dan tetap bersikap netral.

Keberhasilan mengawal NU pada masa transisi tersebut menjadi investasi bagi Masdar untuk dicalonkan sebagai ketua umum PBNU kelak, setidaknya ada suara di bawah yang menginginkan perubahan menginginkan dirinya menjabat ketua umum PBNU. Hal itu bukan semata-mata instan, tetapi tokoh yang terkenal sebagai sosok lokomotif pembaharu dalam tubuh NU ini sebelumnya dikenal kritis, analitis, progresif, dan kadang kala mengagetkan.

Miliki “Trah” Kyai

Masdar lahir dari ibunda Hj. Hasanah, di dusun Jombor, Cipete, Cilongok, Purwokerto%, tahun 1954. Ayahandanya, Mas’udi bin Abdurrahman, adalah seorang kyai masyarakat melalui kegiatan ta’lim dari kampung ke kampung. Sampai dengan kakeknya, Kyai Abdurrahman, Jombor dikenal dengan pesantren salafnya yang telah dirintis oleh moyangnya, Mbah Abdussomad yang makamnya sampai sekarang masih selalu diziarahi oleh masyarakat Islam Banyumas.

Tamat sekolah Dasar yang diselesaikannya selama 5 tahun, Masdar langsung dikirim ayahnya ke Pesantren salaf di Tegalrejo, Magelang, di bawah asuhan Mbah Kyai Khudlori. Tiga tahun di Tegalrejo, Masdar telah menamatkan dan menghafalkan Alfiyah Ibnu Aqil. Selanjutnya pindah ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta berguru kepada Mbah Kyai Ali Maksoem, Rois Am PBNU tahun 1988 – 1999. Meskipun dari Tegalrejo baru menyelesaikan pendidikan setara dengan klas 3 Tsanawiyah, di Krapyak Masdar langsung diterima di kelas 3 Aliyah.

Tahun 1970, selesai Aliyah, Masdar dinasehati oleh Mbah Ali untuk tidak langsung ke IAIN, melainkan untuk ngajar dan menjadi asisten pribadi Kyai terutama dalam tugas-tugas beliau sebagai dosen luar biasa IAIN Sunan Kalijaga. “Saya sering ditugasi oleh beliau untuk membacakan skripsi calon-calon sarjana IAIN dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk diujikan”, katanya. Dalam kapasitasnya sebagai aspri inilah Masdar memperoleh kesempatan langka untuk memanfaatkan perpustakaan pribadi Mbah Ali yang berisi kitab-kitab pilihan baik yang salaf (klasik) maupun yang kholaf (modern).

Tahun 1972, sambil tetap tinggal dan mengajar di Pesantren Krapyak, Masdar melanjutkan studi di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, jurusan Tafsir-Hadits. Di masjid Jami’ IAIN, Masdar sempat menggelar tradisi baru pengajian kitab kuning dengan mem-balah (mengajar) Alfiyah untuk kalangan mahasiswa.

Berbagai seminar ilmiyah telah diikutinya sebagai pembicara mewakili sudut pandang Islam, baik dalam maupun luar negeri. Antara lain, di Manila dan Mindanau (Philipina) di Kuala Lumpur (Malaysia), di Singapura, di Kairo (Mesir), Sidney (Australia), Belanda dan Denmark. Pernah mengadakan kunjungan di pusat-psat keagamaan di Amerika selama 5 pekan, tahun 1986.

Berbagai karya ilmiyah berupa makalah, artikel dan juga buku telah berhasil diterbitkan. Yang utama, berupa buku utuh, bukan kumpulan karangan adalah: 1) AGAMA KEADILAN; Risalah Zakat / Pajak dalam Islam; 2) Islam dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan. Yang terakhir ini, pada tahun 2002, bahkan telah diterbitkan dalam versi Inggris berjudul “Islam & Women’s Reproductive Rights” oleh Penerbit Sisters in Islam, Kuala Lumpur, Malysia.

Kiprah Pemikiran

Yang paling menonjol dari Masdar F Mas’udi adalah kiprahnya di bidang pemikiran keagaman yang sering kali dianggap mengagetkan. Secara garis besar pemikiran Masdar ini dapat diidentifikasi dalam sebuah kerangka paradigmatik yang disebutnya Islam Pembebasan, Emansipatoris, atau al-Islam at-Taharruriy. Dari sudut visi dan akar keprihatinannya, Islam Taharruri ini memiliki karakter yang berbeda dengan kedua gerakan yang kini banyak dibicarakan orang, yakni Islam Liberal (Islib) maupun antitesanya Islam Fundamentalis (Isfund). Bahkan Islam Taharruri ini bisa dikatakan kritik terhadap kedua wacana atau gerakan Islam tersebut.

Sebagaimana diketahui Islib maupun Isfund mengambil fokus utamanya pada issu polarisasi Islam dan Barat. Islib seolah menyuarakan aspirasi dan nilai-nilai Barat ke dalam Islam, sementara Isfund justru hendak meneguhkan identitas Islam untuk melawan Barat. Maka pertengkaran antara keduanya pun banyak terjebak pada issu-issu seperti jilbab, kawin campur, aurat, jenggot, gamis, dan issu-issu sejenis yang berkisar pada perebutan identitas (syi’ar) Islam vs Barat.

Islam Taharruri, di lain pihak, ingin mengundang perhatian pada persoalan-persoalan riil keumatan – kerakyatan yang secara akut menghimpit lapisan besar masyarakat yang terpinggirkan, baik secara ekonomi, politik maupun budaya. Maka agenda yang diusung pun berbeda, yakni: pemberdayaan ekonomi rakyat, pendidikan yang merata dan murah, jaminan kesehatan dan kesejahteraan bagi rakyat banyak, pemberantasan korupsi serta penegakan hukum dan pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government) yang memihak rakyat. Kata kuncinya adalah kemashlahatan orang banyak (mashalih arraiyah).

Bagi Masdar, Islam datang ke bumi bukanlah untuk kepentingan Allah (yang maha Kaya) maupun ajaran Islam itu sendiri (yang sudah sempurna). Islam adalah rahmat Allah bagi umat manusia untuk kemuliaan martabat manusia sendiri secara lahir-batin, jasmani-ruhani, personal-sosial. Oleh sebab itu, keberislaman, harus dibangun melalui empat tahap pembebasan: pertama %3; adalah kepedulian yang mendalam terhadap problem kemanusiaan; kedua, mendefinisikan akar problem kemanusian itu secara kritis; ketiga, merumuskan kerangka perubahan (transformasi); dan keempat, langkah-langkah praksis pembebasan itu sendiri. Dalam keseluruhan empat langkah keberislaman itu, Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, merupakan sumber inspirasi, motivasi dan petunjuk (guidence/ al-huda) yang tidak pernah kering. “Tanpa kerangka keberislaman seperti itu, rasanya sulit Islam bisa menjadi motor perubahan yang mempu membawa umat manusia keluar dari tata kehidupan yang semakin disesaki dengan kezaliman sekarang ini”, katanya.

Sejumlah gagasan orisinal (nyleneh?) telah muncul dari pikiran Masdar yang secara paradigmatik memang bertolak dari kepedulian mendalam terhadap problem-problem kemanusiaan dimaksud. Yang paling diseriusi adalah penafsirannya kembali atas ajaran ZAKAT yang tertuang dalam bukunya (1991) setebal 250-an halaman. Bertolak dari problem ketidakadilan menyeluruh yang diawali dari ketidakadilan ekonomi, Masdar berpendapat bahwa lebih dari sekedar ajaran sedekah karitatif yang tidak berdampak, zakat pada dasarnya adalah konsep etika sosial dan politik kenegaraan untuk keadilan. Pada tataran teknis, zakat adalah konsep perpajakan yang ada pada kewenangan negara/pemerintah untuk redistribusi pendapatan secara radikal agar supaya kesejahteraan tidak hanya berputar-putar di tangan orang-orang kaya saja. Kaila yakuuna dulatan bainal aghniya-a minkum (al-Hasyr: 9). Ashanaf delapan, menurut Masdar, adalah acuan penyusunan anggaran belanja negara, di pusat maupun daerrah) dengan pemihakan yang jelas dan terukur kepada kepentingan masyaralat luas, terutama yang lemah.

Menyusul kemudian, konsepnya yang tidak kalah kontroversial tentang “peninjauan kembali waktu pelaksaaan ibadah haji”. Titik tolaknya adalah keprihatinan yang mendalam atas terjadinya tragedi kemanusiaan Muaishim tahun 1992 dengan korban lebih dari 2000 jemaah yang mati mengenaskan karena terinjak-injak. Musibah itu dari tahun ke tahun sampai sekarang masih saja terjadi, akibat terbatasnya ruang (space) pelaksanaan ibadah haji yang semakin tidak seimbang dengan jumlah jemaah yang terus meningkat sampai 2 juta lebih. Untuk ini, Masdar menawarkan solusi tuntas, agar umat Islam kembali kepada ketentuan waktu pelaksanaan ibadah haji yang secara jelas (sharih) disediakan al-Qur’an, Al-hajju asyhurun ma’luumat/ bahwa waktu pelaksanaan ibadah haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum (Al-Baqarah: 192). Yakni: Syawal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. “Dengan kembali kepada ayat ini, maka 10 juta jemaah haji/tahun pun tidak perlu ada kesulitan”, katanya sambil meyakinkan bahwa dengan pertumbuhan jumlah umat Islam dan kesejahteraannya jemaah haji pasti akan terus berlipat ganda jumlahnya.

Dalam hal ini Masdar menolak anggapan telah mengabaikan hadits Nabi yang mengatakan, Al-hajju arafah (Puncak haji itu wuquf di Arafah) maupun hadits Khudzu ‘anni manasikakum (Ikuti aku tatacara hajimu). Menurutnya, hadits itu harus diamalkan tapi tidak boleh menganulir (ilgha) ayat Al-Baqarah: 192 yang begitu sharih dan jelas lebih tinggi kedudukannya. Caranya, ayat dan hadits-hadits tadi harus diacu sesuai dengan kapasitas masing-masing: Ayat “al-hajju asyhurun ma’lumat” diacu untuk patokan waktu, dalam arti hari-harinya; Hadits “al-hajju ‘arafah” diacu untuk tempat, bukan hari wuquf, dan hadits “khudzu anni manasikakum” diacu untuk tatacara, urut-urutan manasik dan waktu jam-jamnya.

Gagasan-gagasan nyleneh (orisinal ?) ini bagi Masdar sendiri ibarat pisau bermata dua: Di satu pihak membuat kalangan kyai sepuh NU waswas karena pikiran-pikiran itu terasa terlalu maju. Di lain pihak, membuat orang-orang diluar NU justru harus meninjau kembali tuduhan steretipe mereka bahwa NU hanyalah himpunan orang-orang jumud dan beku. Gagasan-gagasan seperti dilontarkan Masdar dan seniornya seperti Gus Dur dan Gus Mus, bahkan Kyai Sahal, justru membuktikan sebaliknya. Kebekuan yang mendera dunia pemikiran Islam selama ini tampaknya justru akan dicairkan oleh NU sendiri. Untuk ini Masdar berpegang pada garis Rasulullah saw, bahwa berbagai pamahaman boleh dikembangkan untuk memenuhi kemaslahatan manusia, asal jangan sampai menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang dihalakan: Almuslimuuna ala syuruthihim, illa syarthan ahalla haraman atau harrama halalan” (al-Hadits).

Tentang gagasan-gagasannya yang nyleneh itu, Masdar berujar, bahwa pada akhirnya terserah para ulama dan umat sendiri untuk menilai. “Jika dianggap lebih menjanjikan kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan nash, tentu suatu saat akan diterima. Tapi jika dibuktikan sebaliknya, ya ndak apa-apa, dan saya siap bertobat dan menariknya kembali”, katanya. Tapi diakui, bahwa yang paling dia berharap dipahami oleh umat dalam waktu dekat, adalah tafsirannya tentang zakat sebagai mandat negara untuk redistribusi kesejahteraan dan keadilan, terutama bagi rakyat miskin dan yang dilemahkan (mustadl’afiin).

Ke-NU-an dan Ke-Indonesia-an

Masdar berpendapat, bahwa “Almuslimuun al-Indonesiyyun kulluhum nahdliyyun, illa man aba/ Semua orang Islam Indoensia adalah NU, kecuali yang menolak”. Dalam pada itu, dalam pikiran Masdar, NU adalah inti Indonesia. Bukan saja kerana NU merupakan wadah untuk bagian terbesar umat Islam Indonesia. Akan tetapi dalam NU juga ada ke-Indonesia-an yang menyatu dengan jiwa ke-Islam-an. Singkatnya, NU adalah Islam Indonesia.

Ibarat kereta, katanya, Indonesia adalah kereta dengan 10 gerbong penumpangnya. Sembilan gerbong diantaranya gerbong umat Islam, dan 6 diantaranya adalah gerbong NU. Tesis ini memastikan, bahwa tidak ada Indonesia yang maju, tanpa umat Islam ikut maju; dan tidak ada umat Islam maju, kalau NU ditinggalkan di belakang, seperti yang terjadi sampai hari ini. Kenapa setelah lebih 30 tahun Orde Baru membangun tapi Indonesia tetap tertinggal dari negara-negara tetangga? Jawab Masdar tegas, “karena Orde Baru sengaja membiarkan NU tetap tertingal di belakang!”

Sementara itu, bagaimana pun Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, harus menjadi negara maju, bermartabat dan terhormat dimata dunia. Keharusan itu, menurut Masdar, hanya bisa dicapai kalau Indonesia berhasil membangun dirinya sebagai negara kebanggan dari dunia Islam di abad 21 modern ini. Inilah tantangan sejarah dan peradaban yang sungguh berat dan mulia bagi seluruh bangsa Indonesia dan warga NU khususnya.

Di dunia ini, kata Masdar, masing-masing umat agama dunia sudah memiliki negara kebanggan. Barat Eropa dan Amerika adalah kebanggaan umat Injil; Israel dengan segala cara ingin menjadi negara model bagi umat Taurat; Jepang dan Thailand, boleh diaku sebagai negara kebanggan umat Budha; dan China tengah tumbuh menjadi kebanggan umat Konghucu. Tapi, mana negara kebanggaan umat Islam?

Menurut keyakinan Masdar, ka’bah dan ibadah haji biar tetap di Makah dan makam Nabi tetap di Madinah. Akan tetapi Indonesia adalah yang paling layak menjadi negara model dan kebanggan dunia Islam di abad modern ini, karena beberapa alasan yang tidak dimiliki oleh negara-negara Islam lainnya: Pertama, penduduk muslimnya yang terbesar di dunia. Kedua, sumberdaya alamnya yang luar biasa kaya; Ketiga, letak strategis wilayahnya yang mempertemukan dan sekaligus menjadi gerbang masuk keluar lalu lintas berbagai benua. Keempat, akar budaya dan sejarah peradabannya. Kelima, yang sungguh penting, adalah kematangan demokrasi dan pluralismenya.

Mewujudkaan Indonesia sebagai negara kebanggan dunia Islam inilah letak tanggungjawab besar umat Islam Indonesia dan NU terutama. Tanggungjawab ini hanya bisa diwujudkan, bukan terutama dengan aktif memperebutkan kekusaan dengan menjaul murah umatnya. Tapi dengan memajukan tingkat keterdidikan, kecerdasan dan kesejahteraan umat dan bangsanya. Untuk itu, bagi Masdar, NU harus kembali dan istiqomah pada cita-cita awal dan sekaligus jatidirinya, yakni sebagai wadah keulamaan untuk memuliakan Islam dan umat manusia. Dan inti keulamaan sebagai essensi ke-NU-an, katanya, adalah wawasan keilmuan dan moralitas dalam amal perhidmatan nyata yang berkualitas untuk umat dan bangsanya.

Pengalaman Organisasi

Pengalaman organisasi Masdar F Masudi diawali ketika tahun 1972 dipilih sebagai ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Krapyak, Yogyakarta, sampai dengan 1974. Selanjutnya pada tahun 1976 terpilih sebagai Sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sampai dengan 1978. Sebagai aktivis mahasiswa, Masdar pernah ditahan oleh Penguasa Orde Baru bersama 9 tokoh aktivis mahasiswa lainnya di markas Pomdam Jawa Tengah, Semarang selama 5 bulan lebih. Penahanan tanpa peradilan itu dilakukan karena ‘dosa’ memimpin demo anti korupsi menjelang Sidang Umum MPR 1978. Tahun 1982, setalah hijrah di Jakarta, Masdar dipilih sebagai Ketua I Pengurus Besar PMII periode 1982 – 1987 mendampingi Muhyidin Arubusman sebagai Ketua Umum. Selesai kuliah, tahun 1980 Masdar hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk Lembaga Missi Islam NU sambil menjadi wartawan di beberapa mass media ibu kota. Tahun 1985, sehabis muktamar Situbondo, bersama dengan K. Irfan Zidni, Masdar ditunjuk sebagai asisten Ketua Umum (Gus Dur) dan Rois Am dibidang Pengembangan Pemikiran Keagamaan.

Sebagai kordinator program P3M ( Prhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), Masdar sempat menerbitkan Jurnal PESANTREN, yang pertama dan satu-satunya jurnal ilmiah Islam yang terbit antara tahun 1984 – 1990. Di lain pihak, didukung oleh Rabitah Ma’ahid Islami (RMI) dibawah duet kepemimpinan (alm) KH. Imran Hamzah dan (alm) KH. Wahid Zaini, Masdar merintis berbagai kegiatan kajian khazanah keislaman Salaf melalui berbagai halqah. Dimulai dari halqah Watucongol tahun 1989 dengan tema “Memahami Kitab Kuning secara Kontekstual”, kegiatan itu terus bergulir di berbagai daerah dengan keikut sertaan para kyai baik yang sepuh maupun yang muda-muda. Salah satau diantara out putnya yang monumental adalah rumusan Metode Pengambilan Hukum yang menjadi keputusan Munas NU Lampung 1992.

Sejak 4 tahun terakhir Masdar F Mas’udi, yang sempat kuliah Program Filsafat di S-2 ini, juga membina pesantren di daerah Sukabumi, persisnya pesantren Al-Bayan, di kampung Cikiwul, Pancoran Mas, Cibadak, Sukabumi. Dengan program pendidikan formal utamanya SMA, sudah tiga angkatan diluluskan dengan prestasi akademikin yang unggul sesuai dengan namanya. Yakni rata-rata 95 persen lulusannya diterima di Perguruan Tinggi Negeri terbaik. Mulai tahun 2004 merintis cabang di Depok, Bogor, dengan program yang sama.

Kini selain sebagai Katib Syuriah PBNU, Masdar F Mas’udi aktif di : P3M sebagai ketua/direktur utama; di Komisi Ombudsman Nasional sebagai Anggota; dan di Dewan Etik ICW (Indonesian Corruption Wacth) sebagai anggota

Iklan

KIAI MAHFUDZ ANWAR

KH. Mahfudz Anwar adalah salah seorang ulama kharismatik yang  memiliki kualifikasi keilmuan yang sangat mumpuni. Tiga cabang ilmu dasar dikuasai dengan sangat mendalam yakni fikih, tafsir dan ilmu falak (astronomi). Selain ketiga bidang itu, KH. Mahfudz Anwar juga dikenal sebagai seorang Muhaddits [ahli hadits], Sufi [ahli tasawuf], dan ahlul lughah [ahli bahasa/ etimolog].

Kemampuan yang dimilikinya itu  tidak lepas dari latar belakang keluarga yang membimbingnya, lembaga pendidikan yang menempanya, dan perjuangan sosial kemasyarakatan yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Tetapi diantara sekian banyak ilmu yang dikuasai ia lebih dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak, yang ditekuni hingga akhir hayatnya.

Masa Pembentukan

Kiai yang hafal al Quran itu dilahirkan di Paculgowang Jombang  12 April 1912 M   dari pasangan  Kiai Anwar Alwi dan Nyai Khadijah, ia anak keenam dari 12 orang bersaudara. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren Pacul Gowang, generasi kedua. KH. Anwar Ali satu periode dengan KH. Moh. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mereka sama-sama murid KH. Kholil Bangkalan Madura. Selain KH. Hasyim, KH. Abdul Karim [pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri] dan KH. Ma’ruf [Kedunglo Kediri] juga teman karibnya. Kiai Anwar Alwi juga murid KH. Mahfudz Termas Pacitan yang berdomisili di Makkah ketika studi di sana.

Melihat latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat wajar apabila KH. Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan agama yang tinggi Saat itu Pesantren Tebuireng telah muncul sebagai pesantren terkenal kualitas keilmuannya, kenyataan itu membuat Kiai Anwar Ali memondokkan anaknya ke sana. Jarak antara Tebuireng dengan Paculgowang hanya  sekitar 3 km. Maka dikirimlah Mahfudz kecil  ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menimba ilmu dari Kiai Hasyim.

Masa pendidikan Mahfudz banyak dihabiskan di Tebuireng, ditempuh mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, (kelas 1 sampai kelas VI) Ibtidaiyah.  Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umumnya tidak jauh beda atau lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya. Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat,  misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin sempat berguru padanya.

Selain kepada Kiai Hasyim, Mahfudz  juga belajar kepada  Kiai Ma’shum Ali, seorang ulama besar, ahli falaq  dan pencetus nazam Ilmu Sharaf  yang sangat heboh di Timur Tengah.  Kiai Ma’shum Ali adalah Direktur Madrasah Tebuireng. Posisi penting itu ia duduki baik karena keilmuannya juga karena menantu KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya Hj. Khoiriyah Hasyim. Pada saat yang sama ia juga mengasuh pesantren sendiri di Seblak, tidak jauh dari situ. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu falaq, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Hal itu bisa dipahami mengingat sejak usia belasan tahun, Mahfudz  sudah belajar ilmu itu. Karena itu meski usianya belum genap 20 tahun, kata Kiai Sahal Mahfud, ia  sudah disegani oleh santri Tebuireng.

Sebagai santri yang menonjol kepandaiannya, akhirnya Mahfudz diambil menantu oleh Kiai Maksum, karena itu ketika Kiai Maksum meninggal  pada usia yang sangat muda, 33 tahun tepat pada tahun 1933, maka kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada ustadz Mahfudz. Kesibukan mengurusi pesantren di Seblak tidak membuat Kiai Mahfudz melupakan Tebuireng ia tetap mengajar di Tebuireng.  Walaupun sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan sudah menguasai sederet ilmu dengan mendalam, namun semangat belajar Kiai Mahfudz tidak pernah padam. Diantara sekian ilmu yang terus giat dipelajari adalah ilmu falaq sayang guru di bidang itu Kiai Ma’shum Ali keburu meninggal dunia, karena itu  langsung belajar falaq lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang menjadi kepala pondok Seblak, yang masih terbilang cucu Kiai Rahmat Kudus.  Karena minatnya sangat besar maka ia belajar dengan tekun dan teliti, sehingga bisa menyerap ilmu gurunya itu dengan cepat.

Ilmu Falak Sebagai pilihan

Sebagai seorang ulama yang mumpuni, Kiai Mahfud menguasai berbagai disiplin keilmuan, antara lain fikih, tafsir dan falak. Dari sekian itu semua dikuasi, tetapi paling ditekuni adalah ilmu falak. Setelah betul-betul menguasai falaq, maka diskusi dan perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah sebagai ajang berdebat untuk memperkokoh argumen dan menghindupkan suasana kailmuan yang jarang diminati itu Maka tidak heran, apabila Kiai Mahfudz dan Mas Dain dalam tempo yang  selatif singkat mampu menjadi seorang pakar falaq yang betul-betul mumpuni. Momentum paling tepat untuk menguji kepakaran mereka adalah pada saat rukyatul hilal (penentuan) awal Ramadlan dan Syawal, sebuah momen yang akurasinya sangat ditunggu oleh masyarakat. Maka, setiap menjelang Ramadan dan Syawal, Kiai Mahfudz dan Mas Dain pergi ke gunung Tunggorono, sebelah barat kota Jombang sekitar 2 km, untuk melakukan rukyah (pemantauan), melihat bulan setelah diperhitungkan sesuai dengan hasil hisab (perhitungan)  masing-masing.

Walaupun ilmu dan caranya sama,  namun seringkali hasilnya tidak sama. Yang satu mungkin mengembangkan satu cara menjadi cara yang lebih cepat dan cerdas, yang satu tetap istiqomah dengan cara lama. Setelah proses rukyah selesai mereka kembali ke pondok mendiskusikan hasil rukyah masing-masing. Perdebatan, untuk adu argumentasi dan ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mengamati hilal [tanggal] menjadi kunci kemenangan. Akhirnya, siapa yang paling benar dan kuat dalilnya yang keluar sebagai pemenang. Kiai Mahfudz sering menang dalam ajang perdebatan ini. Menurut penuturan Kiai Masduki, kelebihan Kiai Mahfudz  mampu menghitung almanak secara akurat lima tahun kedepan. Tetapi untuk menjaga akurasinya ketika membuat almanak selalu gabung dengan Kiai Zubair Selatiga.

Dengan kecemelangannya dalam ilmu falaq ini semakin mengukuhkan kualitas keulamaannya dan kelebihannya diatas ulama yang lain. kebanyakan ulama, khususnya ulama NU hanyalah menguasai ilmu fiqh. Jarang dari mereka yang memiliki kepakaran langsung bidang kikih, tafsir dan sekaligus falak sehinga pamor Kiai Mahfudz semakin tampak diluar pesantren, di masyarakat sekitar. Walaupun keahliannnya langka, tetapi ia masih bisa berkomunikasi dengan rakyat melalui berbagai keilmuan yang dimiliki, akibatnya ia  sering diundang mengisi acara pengajian kampung.

Berkarir di NU

Kiai ini tipe kader NU karis, ia menempuh jalur organisasi ini dari yang paling bawah sebagai pengurus ranting (desa) Seblak. Dari situ naik ke MWC [Majlis Wakil Cabang] tingkat kecamatan, dan akhirnya masuk ke jajaran PCNU [pengurus Cabang Nahdlatul Ulama]. Bahkan ia menjadi  Rais Syuriyah dua periode berturut-turut. Periode pertama mulai tahun 1986-1989, periode kedua mulai tahun 1989-1992. Apabila ada kegiatan lailatul ijtima’ [setiap tanggal 15 bulan Hijriyah] sebulan sekali. Waktu itu, Kiai Mahfudz beserta rombongan seperti Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Wahab Hazbullah, Kiai Fattah, Kiai Abi Darda’, dan Kiai Sholihuddin menghadiri acara tersebut dengan naik sepeda dan bawa bekal makanan sendiri-sendiri, sementara  tempat berganti-ganti.

Dari NU Cabang Jombang kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU Wilayah Jawa Timur. Di sana ia  aktif mengikuti musyawarah atau bahtsul masa’il. Ketenaran fiqhnya  mulai kelihatan tatkala beliau mengikuti forum bahtsul masa’il Kiai Jombang yang diadakan di Masjid Kauman Lor. Forum bahtsul Masa’il Kauman Lor itu dihadiri oleh para Kiai besar NU, seperti Kiai Wahab Hazbullah, Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Adlan Ali, Kiai Fattah Tambak Beras, Kiai Hamid, Kiai Khalil Sokopuro, Kiai Mansur Anwar, dan Kiai Mahfudz Anwar sendiri.

Keterlibatan Kiai Mahfudz dalam batsul masa’il ini sangat besar. Ia aktif menjawab dan mengemukakan argumen dengan dalil-dalil fiqh, tafsir, dan lain sebagainya yang dianggap mu’tabar dalam kalangan Nahdliyyin. Karena kedalaman dan kehati-hatiannya dalam memutuskan hukum inilah, sehingga para ulama peserta sering menyerahkan hasil musyawarah kepada Kiai Mahfudz untuk ditashih. Apabila Kiai Mahfudz tidak datang di acara bahtsul masail, beliau selalu mengirimkan jawaban tertulis.

Intensitas musyawarah ini terus berlanjut sampai ke forum bahtsul masa’il PWNU Jatim dan dalam Muktamar NU. Kiai Mahfudz aktif di PWNU Jatim sekitar tahun 1965-1970-an. Menurut penuturan Kiai Taufiqurrahman salah seorang menantunya, ketika terlibat dalam bathsul masa’il Muktamar, pendapat Kiai Mahfudz selalu keras, dalam arti yang paling shahih, yang paling muktamad, dan yang paling rajih. Ia sangat gigih mempertahankannya, sehingga kalau ada Kiai Mahfudz, suasana perdebatannya menjadi seru, penuh dengan adu dalil secara bergantian. Karena Kiai Mahfudz tidak mau mengalah, seringkali musyawarah batshul masa’il tersebut berakhir dengan mauquf [dipending].

Walaupun demikian, Kiai Mahfudz bukannya tidak mau mengalah dalam adu argumentasi [dalil] ketika bathsul masa’il, namun ia mencari pendapat ulama yang paling shahih dan muktamad. Baru bersedia mengalah jika menemukan ta’bir lebih sharih, jelas, muktamad, apalagi pengarangnya seorang ulama besar semisal Nawawi dan Rafi’i, atau Al-Ghazali dan Ibnu Abdis Salam.  Ini dilakukan semata untuk   mendapatkan jawaban yang benar dan rajih.

Dari kedalaman ilmu dan kehati-hatiannya tulah, akhirnya ia dipromosikan lagi dalam kepengurusan PBNU sekitar tahun 1960-an, bersama Kiai Wahab Hazbullah dan Kiai Bisyri Syansuri. Namun, karena kepakaran beliau yang sulit tertandingi orang lain ada pada ilmu falaq, maka ia diserahi tugas untuk memegang Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sampai tahun 1993 sebuah penghargaan professional yang sangat tinggi, karena berarti mengungguli sekian ratus pakar falak yang ada di lingkungan NU dan para ahli astronomi yang ada di republik ini.

Profesi yang Membawa Risiko Politik

Sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PBNU ini, Kiai Mahfudz Anwar sering mendapat tantangan berat  khususnya dari pihak pemerintah orde baru. Pernah hasil rukyah untuk menentukan hari raya, Kiai Mahfudz berbeda dengan pemerintah selama tiga kali berturut-turut. Seluruh kiai dan warga NU berada penuh di belakang Kiai Mahfudz, maka benturan antara NU dan pemerintah tidak terelakkan.

Dengan sikap itu PBNU di bawah Abdurrahman Wahid dan Lajnah Falakiyah di bawah Kiai Mahfud menjadi incaran pemerintah dan kerapkali dicurigai. Munawir Syadzali sebagai Menteri Agama (Menag) memanggil Kiai Mahfudz untuk mendiskusikan persoalan perbedaan pendapat antara NU dan pemerintah dalam penetapan awal Ramadlan dan Syawal. Saat itu Menag mau mengajak membuat kesepakatan, tetapi di tengah jalan tiba-tiba  Menteri meminta Kiai Mahfudz untuk mengikuti pemerintah saja, kontan Kiai Mahfudz tidak menerimanya. Ia tetap pada pendirian dan keyakinannya sesuai dengan hasil hisab dan rukyah yang dilakukan.

Pada kesempatan yang lain ia diundang untuk turut melakukan ru’yah di Pelabuhan Ratu. Dalam rukyah tersebut, Kiai Mahfudz berbeda pendapat dengan hasil tim yang dibentuk oleh Depag, tetapi pihak Depag memaksa sang Kiai agar mau mengalah. Namun ia  tetap tidak bergeser, teguh memegang prinsip dan keyakinan. Dalam suasana seperti itu ia berkata; kerjakan falaq dengan membaca basmalah dulu, kalau udah pegang pena, dituntun Allah. Kalau Orang itu sombong tidak akan mendapatkan kebenaran”.  Karena kuatnya  memegang prinsip  maka ia dimarginalkan dalam forum itu. Baginya hal itu tidak masalah kemudian dengan enteng keluar dari forum tersebut dengan mengatakan; “Kalau ngak boleh ya sudah, keluar saja” begitu ujarnya.

Walaupun pikirannya tidak diterima pemerintah, sebaliknya amasyarakat sangat menghormatinya, terbukti  setiap menjelang 1 Syawal mulai usai maghrib sampai larut malam, halaman rumahnya penuh dengan lautan manusia, mereka ingin mendapatkan kepastian tanggal jatuhnya bulan Syawal. Karena banyaknya tamu yang datang saat penting ini, sampai di depan rumah ada papan pengumuman yang ditulis tentang penentuan tanggal 1 Syawal. NU biasanya berkiblat kepada hasil ru’yah Kiai Mahfudz, telepon pun tidak pernah berhenti dari seluruh penjuru tanah air.

Mengingat rezim orde baru yang semakin represif dan intervensif terhadap hasil rukyah dan hisabnya, membuat ia tidak nyaman bekerja sebagai ketua lajnah Falakiah PBNUyang saat itu memang sebagai kekuatan non pemerintah yang paling dominan. Apalagi saat itu usianya sudah  uzur, maka ia minta berhenti agar diganti oleh para kadernya namun ia tetap duduk sebagai  Ketua Dewan Pakar Falak PBNU sampai akhir hayatnya.

Menjadi Kiai Kelana

Kehandalannya dalam fikih dan tentu saja falak membuat pemerintah pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai Hakim Agama Kabupaten Jombang,  jabatan itu diduduki selama 4 tahun. Melihat prestasi Kiai Mahfudz yang sangat baik di Pengadilan Agama Jombang, akhirnya pada tahun 1955, beliau dipromosikan menjadi Wakil Direktur Peradilan Agama DEPAG Jakarta. Pekerjaan barunya itu mengharuskan ia bolak-balik Jombang-Jakarta. Namun, baru tiga bulan Kiai Mahfudz rupanya tidak kerasan di Jakarta, akhirnya ia minta pindah ke Jombang. Ia hanya kuat bertahan 3 bulan di Jakarta. Alhamdulillah, permintaan kembali ke kampung halaman dikabulkan. Namun tidak di Jombang, tapi di Mojokerto. Di Mojokerto ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Setelah beberapa tahun di Mojokerto, pangkat beliau naik menjadi Hakim Pengadilan Agama di Surabaya.

Pada saat yang hampir bersamaan, ia diminta menjadi dosen fikih dan tafsir  di IAIN Surabaya. Dalam bidang akademis karirnya juga menanjak dengan dipilihnya sebagai Dekan Pertama Fakultas Ushuluddin. Selain itu juga ngajar di Universitas NU Surabaya. Kepakaran Kiai Mahfudz tidak lepas dari ketekunan dan kesungguhan beliau dalam belajar. Ketika sudah menjadi orang sibukpun, beliau selalu muthala’ah [mengkaji] kitab, mudarasah [membaca] al-Qur’an, dan mengerjakan falaq. Jadi, dalam masalah waktu, beliau sangat hati-hati betul. Sedetikpun harus dimanfaatkan. Jangan sampai terbuang cuma-cuma.

Pada suatu ketika Kiai Mahfudz sekeluarga pernah pindah dari PP Seblak ke Jombang  kota pada tahun 1956. di Jl Jaksa Agung Suprapto No. 14 Jombang. Tempat inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren Sunan Ampel yang saat ini berdiri dengan bangunan megah berlantai empat dan mempunyai santri  kurang lebih 300 orang.

Kiai Mahfudz pindah pertama kali ke Jombang ini, selain membawa keluarganya, juga membawa santri perempuan yang jumlahnya ada 18. Mereka bertempat satu rumah dengan Kiai Mahfudz, menempati satu kamar panjang [rumah itu dulu hanya ada dua kamar, satu kamar panjang untuk santri putri bejumlah 18, dan satu kamar lainnya untuk Kiai Mahfudz, istri dan anak-anaknya]. Sungguh sebuah kesederhanaan yang patut dicontoh.

Sebelum Kiai Mahfudz menempati rumah kosong yang asalnya rumah Patih [kalau sekarang Sekwilda], awalnya beliau melakukan tirakat [topo] dulu, karena rumah itu terkenal angker. Diajaklah KH. Masduki [Perak] untuk berpuasa, membaca do’a-do’a khusus, dsb, dan akhirnya tempat itu menjadi tempat yang barakah sampai sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, Kiai Mahfudz kemudian membuka secara formal sebuah pesantren di tempat barunya itu pada tahun 1958.

Pada mulanya pesantrennya mirip sebuah asrama,  para santrinya hanya terdiri dari anak-anak perempuan yang model pakaiannya berupa rok dan tidak berkerudung. Namun Kiai Mahfudz tidak melarangnya dengan paksa, namun pelan-pelan mereka diajari ilmu aqidah, syari’ah dan perilaku yang baik. Akhirnya, secara perlahan mereka dapat merubah. Yang asalnya memakai rok lantas memakai pakaian ala santri yang menutupi seluruh auratnya, yang asalnya tidak memakai jilbab kemudian memakai jilbab. Ketekunan, ketelatenan kesabaran, dan kesungguhan berdakwah inilah yang menjadi kunci kesuksesan Kiai Mahfudz.

Setelah pesantren yang dirintisnya berjalan, tiba-tba tugas lain sudah menunggu,  ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan pesantren warisan nenek moyangnya, yang saat itu ditinggal oleh pengasuhnya, yakni Nyai Choiriyah Hasyim  pada tahun 1983, Pesantren Seblak menjadi vakum keadaan itu memaksa  Kiai Mahfudz Anwar  pindah lagi ke Seblak pada tahun 1989. Sedangkan pondok Sunan Ampel Jombang diserahkan kepada putra menantunya, KH. Drs. Taufiqurrahman Muhid.

Anggota Keluarga

Istrinya, Hj. Abidah Ma’shum, ditengah kesibukan mendidik anak-anaknya yang jumlahnya 11 orang, masih mampu membagi waktunya untuk mengelola pesantren, dan  madrasah [PGA]. Hj. Abidah juga mampu berkarir di NU sebagai Ketua Muslimat NU Cabang Jombang, menjadi hakim anggota Peradilan Agama Jombang, anggota konstituante yang dibubarkan Soekarno, mengisi pengajian di pelosok-pelosok, menghadiri pertemuan-pertemuan penting di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. sungguh luar biasa.

Dari 11 anak ini, yang meninggal dunia hanya seorang yaitu  Ma’shum [anak pertama] yang sebetulnya dikader menjadi penerus Kiai Mahfudz. Dalam mendidik anak-anaknya, Kiai Mahfudz membebaskan anak-anaknya untuk memilih lembaga pendidikan yang disenanginya.  Sesuai dengan perkembangan zaman, anak-anaknya  banyak yang memilih di jalur umum, seperti kedokteran, bahasa Inggris, dan lain-lain. Yang ke IAIN hanya Gus Iim, yaitu IAIN Surabaya. Namun, setelah lulus lebih memilih profesi wartawan [Surya] dan sekarang menjadi praktisi komunikasi di sebuah perusahaan internasional.

Karena hal inilah, seringkali Kiai Mahfudz mendapat sindiran dari para kiai, “kiai kok anaknya tidak ada yang di pesantren, di sekolah umum semua” begitu juga, anak-anaknya yang belajar di sekolah umum juga mendapat penilaian yang sama, “Anaknya kiai kok belajar di sekolah umum, tidak di agama”. Semua itu meraka biarkan dengan pendirian bahwa waktulah yang menentukan. Dan ternyata benar, akhirnya banyak anaknya kiai yang tidak mondok atau belajar agama, tapi kuliah di fakultas umum.

Walaupun demikian, profesi apapun yang disandang putra-putrinya, Kiai Mahfudz selalu berpesan bahwa mereka harus berpegangan agama secara kuat, menghilangkan fanatisme dan sifat jelek lainnya.

Disisi lain, hal ini menunjukkan sifat keterbukaan Kiai Mahfudz terhadap tuntutan dinamika global yang membutuhkan penguasaan IPTEK dan skill yang memadai. Beliau tidak bersikap dikotomis, memisahkan antara ilmu agama dan umum. Semua ilmu bagi Kiai Mahfudz relevan dengan Islam. Justru saling melengkapi dan menyempurnakan.

Dalam sebuah kesempatan beliau pernah mengatakan “Kita harus memperhatikan pengetahuan umum dan keterampilan, sehingga keluaran pesantren nanti ada yang siap pakai, contohnya seperti KH. A. Wahid Hasyim”. Apa yang dikatakan diterapkan dengan serius, karena itu dipesantrennya dibuka SMP Sunan Ampel sebagairealisasi pemikiran besarnya.

Seluruh waktunya untuk mengabdi di NU dan masyarakat  terutama dalam pengembangan dan pengajaran lmu falaq yang semakin tidak diminati. Sampai akhir hayatnya, ia masih berusaha melakukan hitungan falak sampai tahun 2003. Karena ketekunannya menggarap falaq ketika kondisi tubuh sudah senja, kurang sehat, penglihatan kurang maksimal. Pada tahun 1997 ia jatuh sakit. Belum lagi hobinya membaca berbagai kitab lama dan baru untuk meng-up grade pengetahuannya, hal itu membuat koleksi kitab sang kiai menjadi sangat lengkap.  Pernah suatu kali seorang Imam besar Masjid Madinah datang ke ndalem Kiai Mahfudz, minta kitab Kiai Mahfudz yang dari Kiai Hasyim Asy’ari tentang ilmu hadits dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Kitab kuno itu lalu diganti dengan kitab terbitan baru.

Ketika musim lebaran, hampir non stop selama seminggu pintu rumah terbuka untuk para tamu. Mulai pagi hingga malam. Walaupun beliau capek, tetap menerima para tamu. Menurut beliau, kasihan apabila ada tamu jauh-jauh datang tapi tidak bisa ketemu. Ini menunjukkan kecintaannya kepada umat, dan beliau sekali lagi tidak merasa sebagai orang besar, sebagai orang suci, sebagai orang yang harus dijunjung tinggi. Beliau ingin posisinya setara dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, dalam menyapa siapapun, beliau selalu santun dan tidak menunjulkan kesan kebesaran dan keagungan melebihi orang lain, sungguh luar biasa.

Dengan teman seperjuangan, Kiai Mahfudz  menganggapnya seperti saudara sendiri. Selalu memperhatikan keadaan dan kondisinya. Seperti perhatiannya kepada Kiai Masduki. Hanya dua minggu tidak ketemu, Kiai Masfudz pasti datang ke rumahnya, menanyakan kabar.

Pernah ia diundang khataman Al Qur’an di daerah Brangkal Mojokerto. Dari Perak sampai Brangkal Mojokerto [perjalanan bis sekitar 1 jam setengah] Kiai Mahfudz bersama Kiai Masduki [Perak] naik sepeda. Beliau bersama Kiai Masduki juga pernah diundang ke daerah Doko [Ploso ke utara] dengan naik sepeda dan ketika menghafalkan tanpa pengeras suara.

Beberapa Keistimewaan

Sudah sangat lazim di kalangan nadliyin melakukan ziarah pada Walisongo, tetapi Kiai Mahfudz memiliki tradisi lain, ia lebih suka ziarah wali urip [yang masih hidup] bukan ke pada wali yang sudah wafat. Pada tahun 1988, bersama para Kiai, termasuk Kiai Masduki, Kiai Mahfudz ziarah ke 9 wali yang masih hidup. Wali-wali tersebut menurutnya adalah;  Kiai Mufid [Jogjakarta], Kiai Arwani [Kudus], Kiai Hasan Mangli [Magelang], Kiai Khobir [Tulung Agung], Gus Hussein [Mojokerto], Kiai Zubair [Magelang], dan lainnya. Yang terakhir [Kiai Jubair] adalah santri Kiai Mahfudz. Ketika ditanyakan kenapa Kiai ziarah kepadanya, Beliau menjawab “Dulu santri saya, tapi sekarang alimnya –kepintarannya- melebihiku”. Sebuah ungkapan kerendahan hati dan kejujuran seorang ulama yang tidak memandang status guru-murid. Ketika ziarah ke wali hidup inilah, banyak pelajaran berharga yang didapatkan Kiai Mahfudz dan rombongan. Misalnya, ketika ziarah Kiai Arwani, beliau berpesan “Kiai sak iki kudu iso ngramut santrine, ora santri seng ngramut gurune, nek ora ngono, ora angsal barakah” [Kiai sekarang harus bisa merawat santrinya, bukan santri yang meraat gurunya seperti dulu, kalau kiai tidak seperti itu, maka muridnya tidak mendapatkan barakah].

Pada tahun 1973 bersama Kiai Shalih, Kiai Shohih, Gus Dullah [adik Kiai Mahfudz], Kiai Ridlwan, dan Kiai Masduki, Kiai Mahfudz pergi khataman Qur’an di daerah Ngoro [dirumahnya Muhammadun]. Setelah selesai tibalah waktu ashar. Kiai Masduki matur “Kiai mboten shalat ashar riyen”  [Kiai tidak shalat ashar dulu], Kiai Mahfudz menjawab “Mboten usah, shalat dewean wahe, ngimamai nok ngone dewe-dewe” [ngak usah, shalat sendiri-sendiri, menjadi imam di tempat kita masing-masing]. Setelah itu, mereka pulang naik montor oplet [motor kuno waktu itu]. Sampainya di depan Kiai Adlan Ali Cukir montor opletnya ditabrak prahoto [sebangsa truk] yang membawa batu penuh. Batu dalam truk tadi tumpah ke montor rombongan Kiai Mahfudz. Dalam keadaan seperti itu, mereka semua panik bukan main, antara hidup dan mati. Kiai Mahfudz ketika situasi genting itu berkata, “Gusti watune ampun dibrekake riyen, tiyang-tiyang jen medal riyen” [batu-batu jangan ditumpahkan dulu, biar orang-orang keluar dulu]. Alhamdulillah mereka bisa keluar dengan selamat. Hebatnya, peserta rombongan lainnya tetap berusaha menyelamatkan berkat [oleh-oleh] sampai kopiahnya tertinggal, sedang Kiai Mahfudz dan Kiai Masduki tidak mengurusi berkat, sehingga kopiah mereka tetap ada

Pernah pada suatu ketika Kiai Nah saat inilah ketiga tamu itu terlibat terlibat dalam diskusi secara intens dengan KH. Mahfudz. Khususnya  pastur dari Belanda yang mahir berbahasa Arab [karena pernah lama tinggal di Mesir]. Banyak persoalan yang mereka kupas. Sampai-sampai salah seorang dari mereka, pastur dari Belanda itu melukiskan dalam buku hariannya sebuah pernyataan menarik “Saya ketemu dengan seorang Kiai yang tinggal di desa, namun pemikirannya lebih progresif dari orang kota, pengalamannya luas, melewati batas-batas etnis dan budaya, jiwa kemanusiaannya sangat tinggi. Inilah salah satu hari terindah dalam hidup saya”.

Dalam salah satu pertemuan beliau berkata “Kita harus memperhatikan pengetahuan umum dan ketrampilan agar anak-anak kita siap pakai nantinya, seperti KH. A. Wahid Hasyim yang mampu menjadi menteri agama”. Beliau mampu membaca tantangan dunia ke depan dan berusaha menyiapkan bekal menghadapinya dengan berbagai lembaga pendidikan yang dirintis. Bahkan pada suatu ketika ia  pernah berkata sama putranya Gus Iim, “Im bikin lagu untuk dakwah yang menarik, seperti lagu anak-anak untuk mengenal Tuhan, alam dan sebagainyal”.  Artinya walaupun beliau anti terhadap lagu atau tsamrah sekalipun, namun beliau juga fleksibel selama sesuai dengan aturan agama.

Walaupun ia seorang agamawan yang alim tetapi bukan formalis terbukti tidak mau memakai tasbih, sorban, dan menggelengkan kepala saat dzikir atau wiridan. Bahkan ketika mendapat hadiah tasbih dari seseorang, pasti diterimanya [sebagai penghormatan], namun setelah itu dibakar atau dipendam. Demikian juga ia tidak mau dikultuskan bahkan tidak mau ditulis biografinya, bahkan ketika bersalaman, tidak mau dicium tangan. Ia tidak mau merasa bersih, menjadi cermin orang lain, ia merasa sebagai manusia  Demikian halnya penjagaan terhadap kelestarian alam juga sangat diperhatikan, hal itu dibuktikan tatkala mandi tidak pernah berlebih-lebihan, pasti dengan ukuran air yang pas. Beliau sangat hati-hati. Bagi beliau, air sangat berharga karena sumber kehidupan. Kata beliau “Air itu diturunkan satu-satu oleh malaikat, maka jangan sia-siakan air”.

Beberapa Karya Tulisnya

Walaupun sehari-hari disibukkan dengan berbagai kegiatan mengajar dan mengurus birokrasi di kantor hakim agama dan juga di pengurusan NU baik di cabang maupun pusat, namun tidak menghalangi kiai kreatif itu untuk berkarya secara kualitatif. Di antara karya tulisnya yang bisa diidentifikasi adalah:

Fadlail al-Syuhur, sebaah kitab yang tidak ada namanya, namun berisi keutamaan semua bulan, mulai Syawal sampai Ramadlan, tidak ada yang tersisa. Menurut Kiai Masduki, murid dan sekaligus patner perjuangan yang diberi kitab Kiai Mahfudz, kitab itu berisi tentang seluruh keutamaan dan kelebihan setiap bulan, agar supaya tidak lupa melakukan kekhususannya setiap bulan. Sayangnya, menurut Kiai Masduki [Perak], ketika Kiai Mahfudz memberikan kitabnya itu, beliau berpesan agar jangan memberikan kepada orang lain baik dalam bentuk memfoto copy atau lainnya.

Risalah Asyura min Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, menerangkan tentang keistimewaan bulan Asyura, Muharram. Kandungan buku ini beliau sebar ke masyarakat sekitar dan mengajak mereka bersama-sama mengamalkannya.

Beliau adalah penulis pertama Nadhoman Tahsrif Lughowiyah dan Ishtilahiyah dalam kitab Amtsilah Al-Tashrifiyah. Beliau langsung didekte Kiai Ma’shum Ali. Kitab itu kemudian di serahkan di Timur Tengah untuk dicetak. Luar biasa sambutan Ulama Timur Tengah ketika itu. Mereka kagum terhadap kecerdasan dan kreatifitas ulama Jawa, sehingga kitab ini menjadi kurikulum wajib di sekolah-sekolah Timur Tengah.

Tathbiq [jadwal lengkap] dalam kitab Fathur Rauf Al-Mannan karya Kiai Jalil Kudus

Hasil garapan falak [kalender] sampai tahun 2003

Masih ada karya-karya beliau yang belum terlacak, baik  berupa ringkasan kitab, catatan kaki, atau lainnya.

Amal di Akhir Hayatnya

Ketika usinya semakin senja Kiai itu sangat prihatin, sebab semakin sedikitnya santri yang berminat dalam bidang falak, di pesantren sendiri ilmu itu hanya diajarkan sambil lalu, sebagai pengenalan, tidak dikaji secara mendalam, sehingga bisa dipraktikkan. Langkah yang diambil kiai adalah membuka pengajian khusus ilmu falak di rumahnya. Pengajian khusus itu banyak diminati masyarakat, tidak hanya santri, tetapi banyak warga NU yang sudah senior mengikuti pengajian ini. Forum pengajian selalu ramai karena dihadiri oleh para ulama dari kabupaten Jombang, Kediri dan sekitarnya. Upaya itu tidak sia-sia, maka dalam waktu yang singkat banyak warga NU di berbagai daerah yang bias membuat kalender sendiri, untuk keperluan sendiri. Keberhasilan mewariskan ilmunya pada masyarakat itu membuat Sang Kiai merasa lega.

Di tengah kelegaan itu Kiai Mahfudz wafat pada malam jum’at legi, 21 Shafar 1420, atau 20 Mei 1999 pada pukul sekitar Maghrib. Banyak orang yang melayat, diantaranya KH. Abdurrahman Wahid, KH. A. Sahal Mahfudz, KH. A. Aziz Masyhuri, KH. Imron Hamzah, dan masih banyak kiai besar lainnya. Termasuk juga Ibu Mufida Munir [istri Rozy Munir M.Sc, putranya KH. Munasir Ali Mojokerto]. Dengan meninggalnya Kiai ini bangsa Indonesia dan warga NU khususnya sangat kehilangan seorang astronom terkemuka, yang temuan-temuan dan keputusannya sangat valid sehingga dihormati semua orang.

AKBAR TANDJUNG

  1. Nama : Akbar Tandjung
  2. Lahir : Sibolga, 14 Agustus 1945
  3. Agama : Islam
  4. Jabatan : Ketua DPR-RI 1999-2004
  5. Pendidikan : SR Muhammadiyah,Sorkam, Tapanuli Tengah  SR Nasrani, Medan Tamat  SMP Perguruan Cikini, Jakarta, Tamat  SMA Kanisius, Jakarta Tamat Perguruan Tinggi Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tamat
  6. Istri : Dra. Krisnina Maharani, MSi (Lahir Solo, 5 April 1960)
  7. Anak :  1. Fitri Krisnawati, 21 tahun, Mahasiswi Oregon State University, Corvallis, Oregon, USA.  2. Karmia Krissanty, 16 tahun, Siswi High School, Corvallis, Oregon, USA.  3. Triana Krisandini, 13 tahun, Siswi SMP di Jakarta  4. Sekar Krisnauli, Siswi SD di Jakarta.
  8. Organisasi : 1966 Aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI- UI) dan LASKAR AMPERA Arief Rahman Hakim.  = 1967 -1968 Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia.  = 1968 Aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia. Ketua Mapram Universitas Indonesia.  = 1969-1970 Ketua Umum HMI Cabang Jakarta .  = 1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI  = 1972 Ikut Mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI, PMKRI, PMII, GMNI, HMI) dengan nama Kelompok Cipayung.  = 1973 Ikut Mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).  = 1978-1981 Ketua Umum DPP KNPI.  = 1978 Ikut Mendirikan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI). = 1978-1980 Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).  = 1983-1988 Wakil Sekretaris Jenderal DPP GOLKAR.  = 1998-Sekarang Ketua Umum DPP Partai GOLKAR.
  9. Pengalaman di DPR/MPR RI  1977 -1988 : Anggota FKP DPR RI Mewakili Propinsi Jawa Timur.  1982-1983 : Wakil Sekretaris FKP DPR RI.  1987-1992 : Sekretaris FKP-MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI.  1992-1997 : Sekretaris FKP MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI.  1997-1998 : Wakil Ketua FKP MPR RI.  1997 -1999 : Wakil Ketua Fraksi FKP MPR RI, Wakil Ketua PAH II Badan Pekerja MPR RI.  1999-Sekarang : Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI.
  10. Organisasi Parlemen Dunia  2002 -2003 : President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization)  2003 -2004 : President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members)
  11. Dewan Pembina Golongan Karya  1998-1993 : Anggota Dewan Pembina.  1993-1998 : Sekretaris Dewan Pembina.
  12. Pengalaman di Pemerintahan  1988-1993 Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, Kabinet Pembangunan V.  1993-1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI.  1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman.  Kabinet Pembangunan VII.  1998-1999 Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan.
  13. Pengalaman Internasional  1972 Mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA, selama tiga bulan.  1974 Mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia.  1988 Memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se Dunia di Moskow.  1990 Memimpin Delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur.  1995 Mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. -. 1996 Mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika. ! ”  1998 Mengikuti KTTASEAN di Hanoi 1999 Memimpin Delegasi untuk Mengikuti Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania, Oktober.  2000 Memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU) di Jakarta. . Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Singapura. ..  2001 Memimpin Delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di NewYork. Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Thailand.  2002 Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.
  14. Penghargaan 1992 Memperoleh Penghargaan Bintang MahaputraAdi Pradana dari Pemerintah Republik Indonesia.  1996 Memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Pemerintah Kerajaan Belanda.  1998 Memperoleh Bintang Republik Indonesia dari Pemerintah Republik Indonesia. ..
  15. Alamat Rumah: JI. Widya Chandra 111/No.10 Jakarta Selatan

Akbar Tandjung Politisi Ulung Bebas dari Jerat Hukum = Hidupnya adalah Duni Politik   Politisi ulung dan licin ini kini telah bebas dari ancaman jerat hukum. Mahkamah Agung menerima permohonan kasasinya. Kini dia semakin mantap menjelma menjadi salah satu kandidat Presiden RI. Pria kelahiran Sibolga, 14 Agustus 1945, itu menapaki jenjang karir politik dari bawah. Jabatan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI yang kini digenggamnya memberinya peluang ikut bersaing memperebutkan jabatan nomor satu di negeri ini.   Setelah melalui masa kecil dan menamatkan Sekolah Rakyat (SR) di Medan, ia pun pindah ke Jakarta. Di kota ini ia menamatkan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.  Pergumulannya dengan dunia politik dimulai ketika masih kuliah. Tahun 1966 ia aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Aktivitasnya itu merupakan modal kuat untuk ikut dalam bursa pemilihan ketua senat mahasiswa.  Tahun 1967-1968 terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Tahun 1998 1968 aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga terpilih menjadi Ketua Mapram Universitas Indonesia.   Aktivitasnya tidak hanya dilakukan di dalam kampus. Ia pun terdaftar sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1969-1970 berhasil terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta dan tahun 1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus bukan hanya HMI. Untuk menjalin kerja sama dengan organisasi lainnya, pada tahun 1972 ia ikut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI, PMKRI, PMII, GMNI, HMI) yang kemudian dikenal dengan nama Kelompok Cipayung.   Kehidupan berorganisasi Akbar Tandjung tidak berhenti sampai di situ. Tahun 1973 ia pun ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Baru pada tahun 1978-1981 menduduki posisi Ketua Umum DPP KNPI. Sebagai Ketua Umum KNPI, ia juga turut mendirikan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) tahun 1978 dan hingga tahun 1980 duduk sebagai Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).   Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkahnya semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Tak heran jika tahun 1983-1988 ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar. Seiring perubahan angin politik, Golkar yang begitu dominan pada masa Orde Baru terkena tuntutan perubahan. Golkar yang semula alergi disebut partai akhirnya mendeklarasikan diri sebagai partai menjadi Partai Golkar. Pada tahun 1998 sampai sekarang ia kukuh sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.   Anggota DPR Berbeda dengan kebanyakan politikus di Indonesia, Akbar tidak perlu menjadi anggota legislatif dari DPRD II kemudian naik ke DPRD I, setelah itu baru menjadi anggota DPR RI. Track record-nya sebagai aktivis kampus dan Ketua HMI menjadi modal besar baginya untuk langsung menjadi anggota DPR RI dari fraksi Golkar. Sejak tahun 1977 sampai 1988 ia menjadi anggota FKP DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Di lembaga perwakilan ini ia sempat mengecap posisi Wakil Sekretaris FKP DPR RI periode 1982-1983.   Tahun 1987-1992 ia dipercaya menduduki Sekretaris FKP-MPR RI sekaligus sebagai anggota Badan Pekerja MPR RI. Setelah Pemilu tahun 1992, kembali ia menjadi anggota DPR/MPR. Untuk periode 1992-1997, ia kembali menduduki jabatan Sekretaris FKP MPR RI.dan sekaligus Anggota Badan Pekerja MPR RI.   Tahun 1997-1998 ia terpilih menjadi Wakil Ketua FKP MPR RI. Tahun 1997-1999 sebagai Wakil Ketua Fraksi FKP MPR RI dan Wakil Ketua PAH II Badan Pekerja MPR RI.  Setelah mengalami gejolak politik tahun 1998, Golkar segera melakukan perubahan internal. Golkar menjadi partai politik yang menggaungkan paradigma baru. Akbar Tanjung pun terpilih sebagai ketua umum. Setelah Pemilu dipercepat menjadi tahun 1999, Akbar terpilih sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI sampai sekarang..   Dalam situasi global yang memungkinkan semakin terbukanya arus komunikasi dan semakin pentingnya kerja sama, maka DPR pun menjalin kerja sama dengan parlemen-parlemen negara sahabat. Sebagai Ketua DPR, Akbar pun dipercaya menjadi President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization) periode 2002-2003 dan President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members) periode 2003-2004.  Pembantu Presiden Kemampuan organisasi dan manajerial semasa aktif di organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, maupun di partai politik menarik perhatian Presiden untuk mengangkatnya sebagai menteri. Tercatat beberapa kali Akbar Tandjung memasuki lingkaran dalam pengambil keputusan.  Tahun1988-1993 untuk pertama kalinya ia menjadi menteri dengan jabatan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, pada Kabinet Pembangunan V. Selanjutnya periode 1993-1998 Suami dari Krisnina Maharani ini dipercaya menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Pada Kabinet Pembangunan VII yang tidak berumur panjang, Akbar mendapat kepercayaan menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman. Selepas pergantian presiden dari HM Soeharto ke BJ Habibie, ia diangkat menjadi Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan periode 1998-1999.  Pengalaman Internasional Kesibukan berorganisasi bukanlah halangan untuk menimba ilmu dan memperkuat jaringan internasional. Jika ada kesempatan, mengapa hal itu harus disia-siakan? Maka, pada tahun 1972 ia Mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA, selama tiga bulan. Disusul kemudian tahun 1974 mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia. Tahun 1988 Memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se Dunia di Moskow.   Pada tahun 1990 memimpin delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur. Tahun 1995 mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. Selanjutnya tahun 1996 mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika.   Tahun 1998 mengikuti KTT ASEAN di Hanoi. Satu tahun kemudian yaitu pada Oktober 1999 memimpin delegasi untuk mengikuti Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania.   Tahun 2000 Memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU) di Jakarta. Pada tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Singapura.  Tahun 2001 memimpin delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di NewYork. Masih di tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Thailand. Dan, tahun 2002 memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.   Penghargaan Sumbangan dan dharma bakti Akbar Tandjung terhadap bangsa dan negara tidak sia-sia. Pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan Penghargaan Bintang MahaputraAdi Pradana tahun 1992 dan Bintang Republik Indonesia tahun 1998.  Yang menarik adalah, kiprah Akbar Tanjung pun mendapat perhatian dari luar negeri. Ia memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1996.  Menuju RI-1 Kini Akbar Tandjung telah masuk dalam kompetisi bersama waraga negara terbaik negeri ini untuk menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebagai calon pemimpin dari 220 juta jiwa penduduk, perlu visi yang kuat agar dapat memajukan bangsa ini dari keterpurukan, terutama agar keluar dari krisis sejak 1997.  Sebagai kandidat presiden, Akbar memiliki pemandangan bahwa saat ini Indonesia masih berada pada masa transisi. Namun menurutnya, mtransisi tidak boleh dibiarkan berjalan terlalu lama. Pemilihan umum 2004 merupakan batas konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang baru, yang mampu mengatakan bahwa situasi yang tidak menentu ini harus segera diakhiri. Kewenangan yang ada pada pemilu 2004 diharapkan dapat melahirkan pimpinan nasional yang terampil, yang memiliki agenda yang jelas dan terukur untuk membawa Indonesia kepada situasi yang lebih baik.   Untuk dapat keluar dari krisis, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang mempunyai catatan pengalaman panjang; seorang pemimpin dengan gagasan dan pandangan yang jelas; yang memiliki keterampilan politis dan birokratis yang memadai; yang mampu melakukan koordinasi dan mengkomunikasikan kebijakan-kebijakannya tidak saja kepada elite nasional yang ada, tetapi juga kepada masyarakat banyak.  Akhirnya, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesepakatan-kesepakatan yang dinegosiasikan. Kemampuan untuk membangun konsensus di antara kekuatan-kekuatan sosial-ekonomi dan politik yang ada merupakan modal tambahan yang amat diperlukan untuk membawa Indonesia ke arah situasi yang lebih baik.   Akbar melihat terdapat beberapa persoalan mendesak yang perlu segera diselesaikan oleh pemerintahan yang akan terbentuk nantinya. Di antara persoalan itu adalah (1) pemulihan ekonomi, yang menurutnya saat ini prosesnya cenderung tidak terstruktur dan tidak sistematis karena dilaksanakan tanpa prioritas yang layak dan dapat dipercaya;  (2) kesejahteraan dan kualitas manusia, yang secara kuantitas laju pemulihan ekonomi sepanjang lima tahun terakhir ini belum mampu menciptakan lapangan kerja dan penghidupan yang layak bagi banyak warga negara;  (3) kedaulatan ekonomi dan kemandirian bangsa yang menurun drastis sejak krisis terjadi; (4) lingkungan hidup dan pertanahan. Menurutnya, persoalan mendesak di bidang lingkungan hidup dan pertanahan adalah menurunnya kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup serta buruknya penegakan hukum dan property rightsdi bidang pertanahan;  (5) keamanan dan rasa aman, di mana terjadi kemerosotan sangat besar pada sektor ini; (6) penegakan hukum dan HAM. Masalah ini kemungkinan terjadi karena perangkat hukum yang ada tidak mampu menanggulangi pelanggaran hukum atau pelaku dan institusi yang ada saat ini tidak mampu menjalankan langkah penegakan hukum;  (7) demokrasi, kemandirian daerah, dan integrasi bangsa. Selama lima tahun terakhir perjalanan demokrasi mengalami perkembangan yang menggembirakan, namun sayangnya sering pula muncul kekerasan, konflik sosial, teror, dan persaingan antarelite. Aspirasi dari bawah sering diabaikan atau dijadikan komoditi untuk hal-hal uang tidak produktif atau disintegrasi;  (8) keharmonisan dan kerukunan sosial. Sama seperti masalah lainnya, keharmonisan dan kerukunan sosial pun mengalami kemerosotan; (9) perempuan dan kesetaraan jender. Perempuan Indonesia masih memiliki banyak masalah seperti rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, tingginya angka kematian ibu dan bayi, juga kekerasan terhadap perempuan, baik di lingkungan rumah tangga maupun di luar rumah tangga.  Strategi Membangun Indonesia Sejahtera Peliknya masalah yang dihadapi membuat berbagai masalah itu tidak dapat diselesaikan sekaligus. Untuk itu diperlukan ketajaman untuk memilih hal-hal mana saja yang mendesak diselesaikan. Akbar Tandjung menyebut formula bagi strateginya itu adalah Tri Sukses Pembangunan yang terdiri dari Sukses Pembangunan Ekonomi, Sukses Pembangunan Hukum, dan Sukses Pembangunan Sosial-Kemasyarakatan.   Untuk menyukseskan program itu Akbar secara terbuka mengatakan membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Selain itu, dari figur pemimpin sendiri diperlukan kepemimpinan nasional yang terampil, mempunyai pandangan dan agenda kerja yang jelas, yang bersedia menghimpun seluruh kekuatan yang ada, baik pada tingkat masyarakat maupun negara, dan yang paham tantang kondisi objektif yang dihadapi bangsa dan negara.  Hanya orang yang mempunyai visi yang kuat, pengalaman yang teruji, dan yang dapat memenangkan hati rakyatlah yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, yakni Indonesia sejahtera. Kepemimpinan nasional yang demikian itu akan lahir dari suatu proses seleksi kepemimpinan yang objektif dan rasional, yakni melalui pemilihan umum yang demokratis, jujur dan adil.  Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, legislatif, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, serta kini Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar mengaku merasa terpanggil untuk menjalankan amanat yang mulia itu. Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan dan doa restu dari segenap Keluarga Besar Partai Golkar untuk ikut berkompetisi dalam Konvensi Partai Golkar, dengan harapan dapat terpilih sebagai Calon Presiden RI dari Partai Golkar.   Tak lupa, Akbar meneriakkan slogan andalannya “Mari ‘Maju Bersama, Membangun Indonesia Sejahtera’.”