MAGMA AGAMA DAN DIKOTOMI NASIONALIS-RELIGIUS

Nyaris tak ada kosa istilah politik yang akhir-akhir ini lebih populer dibanding klasifikasi dikotomis: agamis-nasionalis. Sepasang kata kembar ini tak ubahnya mantra sakti yang mesti dilafalkan sebagai penyaring bila kita hendak menimang calon presiden beserta wakilnya.Cobalah simak headline media-media pasca deklarasi pasangan Megawati Soekarnoputri dan K.H Hasyim Muzadi, atau pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla, atau pasangan Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo. Ketiga pasangan ini, termasuk pasangan Wiranto dan Solahuddin Wahid, selalu menyebut diri sebagai Dwitunggal Nasional yang seolah-olah ingin mewarisi sosok Dwitunggal Soekarno dan Muhammad Hatta. Dalam alam pikiran mereka, Soekarno merupakan representasi nasionalis dan Bung Hatta adalah titisan dari kubu agamis. Poster-poster kampanye Megawati dan Hasyim terpampang kata-kata “Menyatunya Dua Kekuatan Terbesar Bangsa” dengan disertai foto Megawati dan Hasyim dalam edisi close up. Amien Rais secara eksplisit menyebut pendampingnya, Siswono, sebagai the first class nasionalist dan menyebut duet tersebut sebagai kombinasi menarik antara religius-nasionalis yang direpresentasikan Amien dan nasionalis-religius yang diwakili Siswono. Publik seakan tak mau tahu apa makna yang sebenarnya tersirat dan tersurat dari dua istilah tersebut. Realitas politik kita saat ini tampaknya tidak cukup punya tenaga untuk mengubur skisma lama ihwal perkubuan atau faksionalisasi antara kaukus agama dan nasionalis. Padahal sebenarnya labelisasi semacam ini telah ditempatkan pada konteks yang tidak sepenuhnya tepat. Orang kemudian akan mudah berasumsi bahwa kalangan agamis tak tentu (bahkan tak mungkin) nasionalis. Demikian pula sebaliknya. Sebagai simbol dari basis massa, mungkin kosa istilah ini cukup bisa dipahami. Namun sebagai perlambang dari citra diri dan identitas secara personal, jelas hal itu perlu dikoreksi. Karena ternyata tak sedikit kaum nasionalis yang cenderung lebih memiliki kesadaran dan pengamalan agama yang benar ketimbang mereka yang mengklaim diri sebagai agamis. Demikian juga sebaliknya. Bahkan dalam diktum-diktum hampir setiap agama dikenal apa yang disebut cinta tanah air atau nasionalisme (dalam khazanah Islam disebut al-wathaniyyah atau hubb al-wathan) yang dianggap sebagai bagian penting dari iman seorang (agamis). Oleh karenanya, perlu direnungkan kembali pemakaian istilah ini terkait dengan kognisi sosial masyarakat kita. Lain dari itu, butuh pula difikirkan bagaimana efek sosial yang mungkin timbul akibat pemilahan dikotomis tersebut di masa-masa yang bakal menjelang. Agama, kemudian menjadi “komoditas” yang bisa seenaknya ditarik-tarik dalam ranah kepentingan politik praktis. Terasa wajar bila ada sebagian yang risau jika dikotomi serupa ini terus didentumkan secara tak terarah. Kekhawatiran senada ini bermuara dari adanya keinginan supaya tidak ada lagi kesalahkaprahan dalam pemaknaan istilah tersebut. Sehingga kesan bahwa agamis “versus” nasionalis adalah dua entitas yang saling tikai dan sukar diakurkan, dapat perlahan dicairkan. Bagaimanapun memaksa emblem agama untuk dibawa ke kancah politik, dalam wacana demokrasi kebangsaan yang belajar tumbuh seperti di Indonesia, adalah hal yang musykil. Memori traumatis yang bisa kita baca dari sejarah panjang perjalanan bangsa ini menunjukkan bahwa simptom semacam itu telah silih berganti terjadi. Terutama di era rezim Orde Baru, agama menjadi tidak lebih perisai guna menguatkan hegemoni status quo. Ayat-ayat agama lalu menjelma tafsir tunggal yang kerap diperselisihkan dengan nilai-nilai demokrasi. Padahal seharusnya agamalah yang mesti menjadi titik pijar demokrasi. Tepat pada titik inilah, kekhawatiran akan munculnya “magma” agama menjadi beralasan. Agama (secara hierarkis) ibarat gunung berapi. Pada level atas terdapat “kawah” yang ditempati kelompok elit. Sedangkan di lapis bawah terkandung danau lava yang sewaktu-waktu bisa diledakkan. Dari sinilah, fanatisme agama menjadi mungkin dimainkan. Elit berpotensi memuntahkan retorika verbal yang dapat menyulut fanatisme kaum akar rumput. Dengan kata lain, energi kumulatif yang tersimpan dalam diri rakyat bawah berpeluang untuk digiring ke arah yang negatif dan destruktif. Dalam konteks ini, ajakan untuk tidak lagi mempersoalkan dikotomi agamis-nasionalis terasa relevan diterapkan. Dengan demikian, kemajemukan hidup beragama memungkinkan untuk teduh, terayomi dan tak ternoda “asap hitam” dunia politik. Perlu kiranya diterapkan –meminjam istilah Kuntowijoyo– pluralisme positif dalam cakrawala keberagamaan kita. Pluralisme jenis ini bertumpu pada dua pilar pokok. Pertama, keyakinan akan agama anutan sendiri. Kedua, kesadaran dan penghormatan atas agama anutan orang lain. Hal ini mungkin diwujudkan manakala ada keseriusan dan langkah nyata dari, terutama, para elit politik kita. Setidaknya ajakan untuk menepikan wacana dikotomis semisal di atas diharapkan mampu meredam lahirnya gejolak yang bisa timbul dari “magma” agama. Dengan begitu tak ada lagi nalar perlawanan maupun logika permusuhan dalam menyikapi pluralitas agama. Paralel dengan masalah ini, dalam khazanah Islam terdapat apa yang disebut al-hanafiyyat as-samhah (sikap toleran yang lapang). Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk tidak semata sibuk dengan ritual (seremonial), melainkan juga peduli dengan lingkungan sosial di sekitar kita. Dengan sikap hidup seperti ini, dimungkinkan lahirnya kesadaran beragama yang inklusif dan tidak fanatik. Dalam bahasa yang elok, Alquran menuntun umatnya untuk tidak “berlebihan dalam beragama” (laa taghluw fii diinikum), sebab agama pada dasarnya merupakan penjabaran dari seperangkat pola hidup yang terbuka, sederhana dan jauh dari rumit. Karenanya ia senantiasa menyodorkan dimensi kelapangan (samhah) serta kemudahan (sahlah). Dengan turut mendamaikan penyekatan antara kubu agamis dan nasionalis ini, setidaknya para elit politik (serta disokong para intelektual dan pemuka agama) telah berusaha menjalankan fungsinya sebagai sentrum pembentukan kesadaran (centers of rational thought) publik yang cerdas dan membebaskan. Semoga.

Iklan

2 Komentar

  1. Singal said,

    21 f 2009 pada 1:47 am

    Semoga mereka lebih berpikir pada kepentingan rakyat…

  2. 12 f 2011 pada 5:12 am

    INGIN KEMENANGAN SEJATI ?, BERJUANGLAH DI JALAN ALLAH

    Dunia seperti apakah yang anda harapkan? Bukankah anda mengharapkan dunia dimana kebenaran pasti menang. Jika itu dunia yang anda harapkan, maka ketahuilah memang seperti itulah dunia ini. Ini terjadi karena Allah sungguh – sungguh berjanji untuk memenangkan kebenaran. Berikut ini penulis tampilkan janji – janji Allah sebagaimana terdapat dalam al Qur’an dan as sunah:

    Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    (Terjemahan Qur’an surat ali ‘imran [3]: 126)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa kemenangan itu hanya dari Allah. Orang – orang yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang – orang mu’min sebagai pelindung mereka, maka mereka akan mendapatkan kemenangan. Sedangkan orang – orang yang mengambil musuh – musuh Allah sebagai pelindung mereka, maka mreka tidak akan mendapatkan kemenangan.

    Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
    (Terjemahan Qur’an Surat al Ahzab [33]: 71)

    Al qur’an menjelaskan bahwa orang mukmin yang taat pada aturan Allah, maka baginya telah mendapatkan kemenangan sejati.

    Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
    (Terjemahan Qur’an Surat al hajj [22]: 77)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa orang yang mengerjakan shalat dan berbuat kebajikan, mereka pasti mendapatkan kemenangan sejati.

    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan> di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
    (Terjemahan Qur’an Surat yunus [10]: 62 – 64)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang beriman dan selalu bertaqwa. Mereka berhak mendapatkan kemenangan besar. Jadi siapa yang menjadi wali Allah, dia berhak atas kemenangan sejati di dunia dan di akhirat.

    Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
    (Terjemahan Qur’an surat Muhammad [47]: 7)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa orang – orang yang menolong agama Allah, maka mereka akan mendapatkan kemenangan sejati karena Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.

    Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
    (Terjemahan Qur’an surat an nuur [24]:55)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa apabila manusia beriman dan beramal shaleh, maka Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana kaum – kaum sebelumnya pernah berkuasa.

    Nabi Muhammad s.a.w bersabda:
    “Allah memperlihatkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat bumi dari bagian timur hingga bagian barat. Dan kekuasaan umatku akan mencapai semua wilayah yang aku lihat.”
    (terjemahan hadits riwayat muslim)

    Hadits diatas menjelaskan bahwa umat islam akan mendapatkan kemenangan dari bumi bagian timur hingga bagian barat.

    Sahabat pernah bertanya kepada nabi Muhammad s.a.w: “kota manakah yang akan lebih dulu ditakhlukan, konstantinopel ataukah roma?.” Nabi Muhammad menjawab: “kota heraklius (konstantinopel) terlebih dahulu.”
    (Terjemahan hadits riwayat ahmad dan ad darmi)

    Hadits diatas menjelaskan bahwa sekelompok umat islam yang berjuang menakhlukkan konstantinopel akan mendapatkan kemenangan. Sejarah mencatat bahwa konstantinopel pernah ditakhlukkan oleh pasukan kaum muslimin. Sekarang namanya istambul, turki. Sementara roma belum pernah ditakhlukan. Insya Allah suatu saat terjadi.

    Nabi Muhammad bersabda; (yang artinya)
    ”Akan ada fase kenabian ditengah tengah kalian. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudia Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala minhajin Nubuwah” kemudian Baginda S.a.w diam. [HR Ahmad]

    Hadits diatas memberitakan kembalinya Negara Khilafah Islam di masa depan. Tentu saja orang – orang yang berjuang menegakan khilafah akan mendapatkan kemenangan.

    Nabi Muhammad bersabda;
    “Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran, mereka menang. Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan memadaratkan mereka hingga datang ketentuan Allah”

    Hadits diatas menjelaskan bahwa ada sekelompok umat islam yang berjuang membela kebenaran. Mereka berhak atas kemenangan sejati.

    “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas urusan Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu.”

    Hadits di atas menjelaskan bahwa akan selalu ada umat muhammad yang berperang untuk menegakkan kebenaran. Keberadaan mereka dimulai dari masa awal islam, saat ini maupun di masa depan hingga akhir jaman. Mereka mendapatkan kemenangan sejati.

    Diriwayatkan oleh sahabat Tsauban, Nabi Muhammad bersabda:
    “Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.”
    Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda:
    “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.

    Hadits di atas menjelaskan keadaan Negara Khilafah Islam di masa depan, dimana pada saat itu seorang khalifah (kepala negara) meninggal dunia. Kemudian ketiga putera khalifah berebut kekuasaan. Di lain pihak Al Mahdi mendapat dukungan dari pejuang – pejuang ber-bendera hitam yang datang dari arah timur (semoga dari Indonesia). Mereka akan memudahkan Al mahdi mendapatkan kekuasaan sebagai khalifah di dunia Islam. Jadi orang yang bergabung dengan pejuang ber-bendera hitam akan mendapatkan kemenangan sejati.

    Rasulullah saw bersabda, “…Ketika imam mereka maju ke depan untuk shalat Shubuh, maka turunlah Isa putera Maryam lalu imam itu mundur berjalan ke belakang supaya Isa maju menjadi imam. Isa meletakkan tangannya di antara kedua pundaknya kemudian dia berkata, ‘Majulah dan shalatlah karena shalat ini didirikan untukmu’. Lalu imam mereka shalat dengan mereka. Selesai shalat Isa berkata, ‘Buka pintunya’. Lalu mereka membuka pintu di mana Dajjal bersembunyi di belakangnya ditemani 70 ribu orang Yahudi, masing. masing dengan pedang yang berhias dan jubah (mantel). Apabila Dajjal melihat kepadanya maka ia meleleh (mencair) seperti garam yang mencair di air. Dajjal kabur. Isa AS berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai pukulan untukmu, kamu tidak akan mendahuluiku dengannya. Isa menangkap Dajjal di pintu Lud sebelah timur lalu membunuhnya. Lalu Allah mengalahkan orang- orang Yahudi, maka tidak ada satu pun makhluk Allah awj yang digunakan oleh orang- orang Yahudi sebagai tempat persembunyian kecuali Allah menjadikannya berbicara. Batu, pohon, dinding, hewan semuanya berbicara kecuali gharqadah, ia tidak berbicara karena ia adalah pohon mereka. Semuanya berkata, ‘Wahai hamba Allah yang muslim, ini orang Yahudi kemarilah bunuhlah dia’.” (HR. Ibnu Majah no. 4128. dan al. Hakim 4/436. 437, dia menshahihkannya dan disetujui oleh adz. Dzahabi).

    Hadits diatas menjelaskan bahwa kaum muslimin yang berjuang bersama Nabi Isa akan memerangi dajjal beserta pengikutnya. Mereka akan mendapatkan kemenangan.

    Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
    (Terjemahan Qur’an surat At Taubah [9]: 88-89)

    Al Qur’an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin yang berjihad bersama Rasul, mereka itulah yang mendapatkan kemenangan sejati.

    KESIMPULAN
    Pembela-pembela kebenaran di jalan Allah pasti mendapatkan kemenangan sejati, karena yang demikian itu adalah janji Allah s.w.t. sedangkan pembela kebatilan mereka akan mendapatkan kekalahan, usaha mereka sia sia dan tidak membawa kebaikan di akherat.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: