PENDIDIKAN DI INDONESIA

Perspektif manusia mulai dari zaman purba sampai sekarang tetap tidak berubah, yaitu ingin lebih baik dan mandiri, hal itu tercermin dari rasa keingintahuan manusia yang sangat besar terhadap lingkungannya, manusia selalu mencari melalui fenomena-fenomena yang terjadi di alam ini. Kita tahu ketika Thales sedang memandang langit berhari-hari, sampai dia menemukan suatu pertanyaan; “Terbuat Dari Apakah Dunia?” sejak saat itulah manusia mulai berfikir dan mencari melalui fenomena-fenomena dan dalam filsafat disebut fenomenologi, namun dengan banyaknya manusia yang tahu, maka Plato membuka sebuah wadah (dalam hal proses pembelajaran) dan dia sendiri yang menjadi gurunya dan murid pertamanya adalah Aristoteles, sejak saat itulah dikenal sebuah pembelajaran yang interaktif yang melibatkan guru dan murid walaupun masih belum tersusun secara rapi, proses pembelajarannya hampir sama dengan sistem pondok pesantren, di mana seorang kiai adalah titik sentral dari segalanya baik dalam hal pendidikan maupun kebijakan (pesantren Abad 16 sampai sekarang).

Dinamika Pendidikan Di Indonesia

Di Indonesia dikenal berbagai macam corak pedidikan dan sistem yang mempengaruhinya, mulai dari sistem klasikal (Timur Tengah) sampai sistem liberal atau sekuler (Eropa Barat). Sistem klasikal mewarnai Indonesia sebelum masa penjajahan karena semua pendidikan di Nusantara berkiblat kepada proses pendidikan di Mekah (Arab Saudi), hal ini tidak terlepas dari para pedagang dan saudagar yang singgah di berbagai pesisir Nusantara, mereka berdagang sambil membawa misi ke-Islaman, sistem ini mulai ditinggalkan setelah ada sistem baru dari Eropa Barat yang membawa misi pendidikan liberal dan kolonialisasi besar-besaran di seluruh Asia.

Warisan dari kedua sistem itu masih tetap ada sampai sekarang sehingga menimbulkan berbagai macam persepsi, baik dari paradigma pendidian sendiri maupun lembaga yang yang menglola, kita tahu sekarang di Indonesia berdiri dua lembaga pendidikan yang sangat bertolak belakang, dan di seluruh dunia sistem seperti ini hanya ada di Indonesia. Sampai sekarang pun di era modern, para paradigma pendidikan baik yang di bawah perlindungan Depag maupun Diknas tidak mau berkompromi mengenai sistem pendidikan yang baik di Indonesia, karena mereka mempunyai falsafah tersandiri seperti apa yang di katakana oleh Prof. Hamka, “Pendidikan agama lebih menekankan pada niai-nilai dari pada material, hal ini sangat berbeda dengan pendidikan umum yang lebih berorientasi pada material, dan departemen agama yang menaungi kami adalah suatu proses juang yang panjang menuju pengakuan pedidikan agama di sekolah formal.

Sampai sekarang pun sistem ini masih dipertahankan sebagai suatu sistem yang cocok di Indonesia, namun yang terjadi di sini adalah mengenai pendidikan jangka panjang anak didik, kemampuan anak didik dalam menyerap proses pendidikan hanya setengah-setengah dan kalau kita lihat realita di lapangan, pendidikan agama di sekolah umum hanya sebagai pelengkap, karena dalam satu pekan hanya kurang lebih dua jam diajarkan kepada siswa, sedangkan guru agama sangat besar tanggung jawabnya terhadap moralitas anak didik, padahal waktu yang diberikan sangat sedikit kalau dibandingkan dengan amanat yang dienbannya.

Harapan

Kita mengetahui di lapangan bahwa masyarakat Indonesia sekarang sudah mulai kritis dan berfikir panjang, mereka sudah bisa melihat peluang pasar, “Kalau kita menyekolahkan anak kita di lembaga pendidian agama mungkin hanya 30% peluangnya untuk sukses, namun kalau di pendidikan umum dengan berbagai macam jurusan yang lengkap, mungkin peluangnya lebih dari itu dan pasar di indonesia juga lebih condong kepada eropa barat dan amerika.” Oleh karena itulah masyarakat menginginkan peleburan dari kedua lembaga tersebut tidak lagi Diknas dan tidak juga Depag namun suatu sintesa yang lebih bermasyarakat dan dapat menjawab seluruh persoalan pendidikan di Indonesia yang sangat plural karena terdiri dari berbagai macam budaya, adat, agama, dan kepercayaan.

Sintesis

Dari berbagai persoalan di atas dapatlah kita simpulkan sementara, bahwa pendidikan di Indonesia sarat dengan kepentingan dan muatan politis baik dalam hal kebudayaan maupun agama, sampai-sampai kepentigan anak didik sering terabaikan baik dari segi pembelajarannya maupun dalam aspek kurikulum yang sangat mendasar dalam mewujudkan kecerdasan anak didik, sesuai amanat pembukaan UUD RI 1945 yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, seyogyanya paradigma pendidikan harus lebih independen dalam hal kebijakan merumuskan sistem pendidikan di Indonesia sesuai amanah yang diberikan oleh masyarakat, dan dalam merespon dinamika pendidikan di dunia, seorang paradigama harus lebih selektif dalam memilih kurikulum yang cocok untuk masa depan anak didik.

Saya lebih sependapat dengan ayat al-qur’an yang berbunyi; “Kemanapun kau hadapkan wajahmu di situlah wajah Allah.” Ayat ini kalau dihubungkan dengan dunia pendidian yang berkembang di Indonesia adalah Tuhan tidak membeda-bedakan antara ilmu Umum dan Agama (material dan non-material) karena semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, diciptakan untuk manusia dan untuk kesejahteraannya. Sebuah hadits yang berbunyi, Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina.” Hadits ini mencerminkan sikap nabi Muhammad yang terbuka, karena dengan ke Negeri Cina kita akan melintasi berbagai macam kebudayaan dan agama yang plural, namun sesuai dengan hadits ini kita diperintahkan mempelajari semuanya tanpa terkecuali, karena manusia yang berpengetahuan luas tidak akan mudah terpengaruh dan diombang-ambingkan oleh badai, karena semuanya milik Allah dan akan kembali kepadanya. Jadi janganlah kita mempermasalahkan atau takut terhadap sesuatu yng belum kita tahu dampaknya, karena kalau kita keluar dari koridor Tuhan tidak ada lagi yang menjamin akan kehidupan kita ke depan.

Pluralisme pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah saatnya dihilangkan dan kedua sistem itu (Diknas dan Depag) harus dilebur menjadi satu, sehingga dapat menjawab semua persoalan umat dalam hal pendidikan, dan dalam proses pembelajaran siswa tidak lagi dibingungkan oleh sistem yang memang sudah kacau dari awal, sesuai dengan firman Allah, “Kami melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang di lakukan oleh nenek moyang kami.” Selanjutnya Allah berfirman, “Apabila nenek moyang kalian sesat apakah kalian juga akan ikut sesat?.” Jadi berdasarkan ayat tersebut kita sebagai generasi muda harus bisa merubah suatu tatanan yang kacau menuju tatanan yang lebih baik.

Tolong, bagi pihak-pihak penentu kebijakan, jangan seperti para pemimpin di zaman Jahiliyah..! Berpikir, pertimbangkan, dan tentukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: