HAKEKAT AKU

Pada era post modernisme, terkadang manusia sudah tidak mengenal lagi jati dirinya, kenapa hal itu bisa terjadi, apa buktinya, dan bagaimana penanggulangannya?

Kalau kita menelaah lebih dalam tentang tatacara pergaulan para remaja, dan arah kehidupannya yang tidak menentu dan hanya ikut-ikutan dalam menjalani kehidupan yang kongkrit dan nyata, mereka lebih senang berfikir pragmatis sesuai dengan hasrat yang mereka miliki, terkadang kita akan sulit mencari remaja atau manusia di era modern ini yang berusaha untuk tegar dan tidak berfikiran pragmatis serta optimisme yang berlabihan, sebenarnya manusia-manusia yang ideal sudah ada sejak zaman yunani klasik yaitu mereka yang mempunyai kepribadian yang kuat dan segala sesuatu yang mereka lakukan harus di fikirkan dampak positif dan negatifnya dan mereka tidak serta merta melakukan sesuatu yang mereka belum tahu tentang efek dari yang mereka kerjakan, seperti perkataan rene desrates”Cogito Ergo Sum”(saya ada karena berfikir).

Manusia menurut Islam

Dalam islam banyak sekali di gambarkan tentang sifat dan karakter manusia ideal dan berfikiran optimis, walaupun hal itu muncul secara apriori seperti apa yang terjadi pada nabi Yusuf, “(ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Kalau kita menelaah ayat di atas dapatlah kita menarik suatu kesimpulan bahwa islam mengajarkan kita untuk berfikir optimis, namun tidak over optimis. karena over optimis akan mengakibatkan suatu kebutaan dalam berfikir, kita tidak akan lagi realistis seperti apa yang kita inginkan, tetapi kita akan di hantui angan-angan yang hampa dan jauh dari harapan. Dan ayat di atas menceritaan bahwa nabi yusuf memperoleh suatu mimpi yang di takwil oleh bapaknya yaitu Ya’kub (Israel) yang katanya bahwa yusuf akan menjadi orang besar (berbakat) namun hal itu perlu adanya perjungan yang gigih sampai-sampai nyawa yusuf hampir tiada karena kelicikan dari kakak-kakanya, dan dalam cerita lain juga kita mengenal yang namanya Rakuti (cerita jawa) dia hidup pada masa kerajaan majapahit, dia juga bermimpi menjadi raja majapahit dan ternyata mimpi itu juga menjadi kenyataan walaupun rakuti hanya sebentar menjadi raja setelah itu dia meninggal dalam peperangan, dan di Al-Qur’an juga diceritakan tentang jati diri yusuf yang tiada tergoyahkan seperti ceritanya dengan Zulaikha. “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Dalam hakekat manusia memang mempunyai naluri yang komplit (baik, jahat pemarah, penyabar, brutal, lemah-lembut, dll) dan dengan kemampuan itulah manusia dapat bertahan hidup dan bahkan dapat menguasai dunia tergantung ranah mana yang kita kembangkan.

Aku adalah aku

Wujud dari hakekat manusia yang tertinggi adalah mengetahui dirinya sendiri (dari mana dia bersal dan kemana arah tujuannya) pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan klasik dan terkadang di era post modern, pertanyaan ini belum dapat di jawab sepenuhnya. Kalau kita telaah ceritanya Nabi Ibrahim as, kita akan berfikir bahwa pencarian jati diri harus dilakukan melalui dua cara yaitu secara Apriori (supra logis) maupu Apostseriori (logika emperik) dan untuk berfikir ke sana kita tidak boleh apatis dan eklusif, karena dengan bersikap apatis dan eklusif maka kemampuan kita untuk menganalisis sesuatu akan terhambat dan kita akan terjebak kepada fanatisme buta, oleh karena itulah untuk mencari hakekat diri yang sebenarnya kita di haruskan untuk lebih terbuka namun tidak terbawa arus, kita harus punya pegangan apasih pegangan kita? Pegangan kita adalah jalan lurus, dalam hal ini Agama Ketauhidan, karena dalam agama kita akan di latih untuk; percaya diri, tidak menyembah sesuatu yang kongrit, tidak mudah percaya kepada orang lain, optimis, serta berfikir jauh ke depan. karena inti dari ajaran Agama Ketauhidan adalah logika emansipatoris yang bercorak metafisik, pemikiran inilah yang akan membawa manusia kearah kebenaran hakiki, karena agama ketauhidan mengarahkan pemeluknya untuk berfikir hanya semata-mata karena Tuhan yang di yakini dan di dalam hatinya tiada lain yang di ingat kecuali Tuhan yang Maha kuasa dan Maha bijaksana, pola fakir inilah yang menuntun manusia (pemeluknya) untuk tidak sombong, karena kesombongan inilah yang akan membawa manusia menjadi angkuh dan congkak serta mengaku adi daya di dunia, padahal sebenarnya dia hanyalah debu-debu yang beterbangan, kalau di bandingkan dengan ilmu tuhan yang maha luas. Hidup ini rasanya akan tenang ketika kita mengingat sesuatu yang Maha Super itu karena tiada lain yang bisa mengarahkan kita kecuali sesuatu yang memang menguasai arah itu sendiri. Jadi kalau kita ingin mengetahui jati diri kita , kita haruslah berusaha untuk mencarinya baik secara apriori maupun aposteriori yang di sandarkan kepada sesuatu yang abstrak supra logis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: