Pembelajaran Sejarah dengan Alur Mundur

Selama ini yang kita jumpai dalam pembelajaran Sejarah telah banyak menggunakan alur maju dengan pendekatan deduktif.  Tidak sedikit buku atau bahan ajar Sejarah yang menggunakan pola tersebut, bahkan dalam penyusunan dan menentuan materi pokoknya pun juga telah “membudaya” alur maju. Hal ini disebabkan karena anggapan bahwa pemahaman tentang sejarah lama atau yang awal lebih penting dari pada sejarah yang baru. Pada realitasnya, memang siswa memahami sejarah yang lebih awal itu, namun mereka malah melupakan atau kurang memahami sejarah yang baru, misalnya dalam mata pelajaran Sejarah Umum, materi tentang bagaimana Columbus menemukan dan menduduki pulau Amerika, kebanyakan siswa memang telah memahami materi itu, namun tentang bagaimana Indonesia merdeka mereka malah kurang paham.

Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus. Sedangkan pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan.

Lain halnya dengan cerita-cerita dalam film, novel, atau cerpen. Kualitas cerita tersebut sangat dipengaruhi oleh penentuan alur, bisa menggunakan alur maju maupun alur mundur. Dalam cerita film, terkadang penonton malah lebih menyukai cerita yang beralur maju. Sebagai contoh yaitu pada film “Titanic”, film tersebut menggunakan alur maju yang menampilkan lebih dahulu penemuan kapal Titanic oleh para ilmuwan. Film tersebut juga sangat disukai oleh kebanyakan masyarakat, karena mereka merasa penasaran atau ingin mengetahui sebab-sebab apa yang mengakibatkan tenggelamnya kapal Tetanic.

Penggunaan alur dalam cerita film, novel atau sejenisnya tidak sama dengan penggunaan alur dalam pembelajaran Sejarah. Jika alur dalam pembelajaran Sejarah disamakan dengan penggunaan alur dalam cerita film, maka akan terjadi “pembalikan” pemahaman pada siswa. Sebaiknya sebelum siswa berusaha memahami tentang hal-hal yang umum (luas) harus memahami dahulu hal-hal yang lebih khusus (sempit), sehingga akan lebih baik jika alur yang digunakan dalam pembejaran sejarah adalah alur mundur dengan pendekatan induktif.

Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback). Sedangkan pendekatan induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari keadaan khusus menuju ke keadaan yang umum.

Penggunaan alur mundur dalam pembelajaran Sejarah ini tidak hanya terbatas pada waktu saja, tetapi juga ruang. Waktu adalah hal-hal yang berupa periode atau kurun dalam suatu peristiwa, sedangkan ruang adalah hal-hal yang berhubungan dengan tempat. Misalnya, pada Mata Pelajaran Sejarah Islam, terdapat materi tentang penyebaran Islam di seluruh seluruh dunia. Dalam hal ini pemberian informasi oleh guru kepada siswa tidak harus diawali dari bagaimana penyebaran Islam di Arab Saudi, tetapi dapat diawali dengan penyebaran Islam di Indonesia dahulu.

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa untuk membuat penonton penasaran pada cerita film, si sutradara menggunakan alur maju. Dalam cerita tenggelamnya kapal “Tetanic”, penonton pasti bertanya-tanya “bagaimana kapal tersebut bisa tergelam?”. Lain halnya dengan pembelajaran Sejarah, untuk membuat siswa lebih penasaran dengan cerita atau peristiwa selanjutnya maka lebih baik digunakan alur mundur. Dalam peristiwa penyebaran Islam, jika siswa diberikan tentang bagaimana masuknya Islam di Indosesia, maka mereka akan bertanya-tanya “dari mana asal agama Islam itu?”, dari situ guru dapat melanjutkan materi selanjutnya secara mundur, sehingga pada akhirnya akan sampai pada penyebaran Islam di Arab Saudi yang terjadi sekitar IV abad yang lalu.

Alur mundur ini tidak hanya digunakan dalam pembelajaran Sejarah saja, tetapi juga dapat digunakan dalam materi pelajaran lain. Namun pada dasarnya, efektif atau tidaknya proses pembelajaran tergantung pada bagaimana kreatifitas dan seni seorang guru, karena selain sebagai “ilmuwan”, guru juga sebagai seniman.

Iklan

1 Komentar

  1. fauzi1 said,

    10 f 2009 pada 8:42 am

    Informasi yang sangat menarik, trim’s


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: