Inquiry dalam Pembelajaran SKI

Proses pembelajaran memiliki keunikan tersendiri. Siswa yang menjadi bagian dari sistem pembelajaran tidak hanya berperan sebagai obyek pendidikan, melainkan berperan juga sebagai subyek pendidikan. Perlakuan terhadap siswa ini yang menjadikan mereka bisa lebih mandiri dalam belajar, lebih aktif dan lebih punya kreatifitas dalam mengembangkan materi yang telah disampaikan guru. Hal ini mendorong terciptanya metode pembelajaran secara aktif, guna memberikan ruang yang cukup untuk perkembangan kemampuan dan kreatifitas siswa. Selama ini kelemahan utama pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah pendekatan yang terlalu monoton, melalui ceramah. Metode mengajar seperti ini memang masih dibutuhkan, tetapi ia harus diimbangi dengan penugasan memahami bacaan dan diskusi seusai ceramah atau juga dengan topik-topik tertentu yang telah ditetapkan oleh guru. Untuk melengkapi metode-metode ini, sangat dibutuhkan metode yang lain, yang salah satunya adalah dengan metode inquiry. Mulyasa (2008) mengemukakan, bahwa inquiry merupakan metode yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain. Metode memang sekadar cara atau alat untuk mencapai sebuah tujuan. Meskipun demikian, metode sering menjadi faktor utama yang menjadikan sebuah pengajaran berhasil atau gagal. Menarik atau tidaknya materi pelajaran tidak hanya ditentukan oleh sosok figur guru, tetapi juga oleh “how”, bagaimana ia mengantarkan materi, karena proses ini pada dasarnya adalah bagian dari dirinya yang akan menentukan atmosfer dan dinamika proses pembelajaran. Penerapan metode inquiry dalam pembelajaran SKI merupakan salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan, bertanya, pengumpulan data, analisa data dan penarikan kesimpulan. Dari pengalaman itulah siswa mendapatkan pengetahuan yang dari, oleh, dan untuk mereka sendiri. Dengan kata lain, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Sebelum guru menerapkan metode inquiry, guru terlebih dahulu harus merancang kegiatan penemuan, bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal. Dalam hal ini, sebagai contoh dalam pembelajaran SKI adalah materi tentang sejarah Wali Songo. Jadi, siswa diajak dengan langsung mendatangi pusat-pusat budaya Islam peninggalan atau makam Wali Songo. Adapun langkah-langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan masalah Rumusan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk mencari dan berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang dijadikan masalah dalam ber-inquiry adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan, misalnya siswa diberi suatu permasalahan tentang apa saja peninggalan-peninggalan dan jasa-jasa Wali Songo dalam perkembangan kebudayaan Islam di Indonesia. 2. Mengumpulkan data Pengumpulan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan yang telah diajukan sebelumnya. Dalam hal ini, siswa dapat mengobservasi atau mengamati mengenai peninggalan-peninggalan Wali Songo, dan sekaligus dapat melakukan wawancara terhadap “juru kunci” atau informan yang dianggap lebih mengetahui dan memahami tentang riwayat dan jasa-jasa Wali Songo. 3. Menyajikan hasil data Pada tahap ini, setelah proses pengumpulan data dianggap cukup, data tersebut diolah dan dinalisis, kemudian disajikan. Penyajian hasil ini dapat disajikan dalam bentuk tulisan, gambar, bagan, ataupun tabel. 4. Mendiskusikan hasil data Pada tahap terakhir, akan didiskusikan apa yang menjadi temuan siswa, kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap masalah yang ditetapkan sebelumnya. Diskusi hasil ini dapat dilakukan dengan sesama teman, guru atau audien lainnya, dengan tujuan untuk mengetahui keabsahan atau kebenaran dari hasil temuan. Dari keterangan di atas tersebut hanya merupakan salah satu contoh materi SKI saja. Oleh karena itu, metode inquiry ini dapat diterapkan pada materi-materi SKI lainnya, atau bahkan pada setiap mata pelajaran yang ada di madrasah. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok kecil, serta pada saat proses pembelajaran atau pada saat kegiatan terjadual. Dalam metode ini, model komunikasi yang digunakan bukan komunikasi satu arah, melainkan komunikasi banyak arah. Perlu diketahui, bahwa dalam pembelajaran inquiry, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, tetapi peranan guru hanya sebagai pembimbing dan fasilitator belajar saja. Dengan demikian, materi pembelajaran akan lebih berarti jika siswa mempelajari materi pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan nyata dan menemukan arti di dalam proses pembelajannya, sehingga pembelajaran akan diminati dan menyenangkan, di mana siswa akan lebih aktif, bukan hanya sebagai pengamat pasif.

About these ads

1 Komentar

  1. 18 f 2013 at 2:16 pm

    […] Inquiry dalam Pembelajaran SKI […]


Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: