TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Pendidikan merupakan bagian dari perjalanan hidup umat manusia yang ingin maju. Pendidikan adalah salah satu aspek dalam Islam dan menempati kedudukan yang sentral, karena peranannya dalam membentuk pribadi muslim yang utuh sebagai pembawa misi kekholifahan. Allah telah membekali manusia dengan akal ( kemampuan rasio ) dan al – Qur’an memberi dukungan yang kuat bagi usaha manusia untuk meningkatkan standard kehidupan.

Jika pendidikan Islam diorientasikan pada misi dan fungsi kehidupan manusia, maka orientasi ini lebih bernuansa pada performansi manusia, yaitu bagaimana manusia seharusnya berperan / berkiprah sebagai khalifah Allah dan sekaligus sebagai hamba Allah. Sungguh performansi yang begitu sempurna ! Bagaimana kita bisa meraih performansi yang begitu agung dan sempurna ? Tentu saja melalui pendidikan yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran. Tapi pertanyaan kembali muncul, format pendidikan seperti apa yang dapat membentuk pribadi muslim yang utuh ? Apakah format pendidikan seperti yang ada sekarang sudah cukup ideal ? Kenyataannya out put dari lembaga p[endidikan kita yang ada sekarang belum mampu mencetak generasi muslim yang Qur’ani. Dan itu bukan hal mudah !

Secara umum memang tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih sangat rendah. Ini nampak sekali pada komponen pendidikan yang ada baik itu pendidik, sarana dan prasarana, kurikulum, dan dana yang kurang memenuhi standart. Pendidik kita misalnya, banyak yang belum berkualifikasi sebagai pendidik yang profesional karena secara akademis mereka belum memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang pendidik ( guru ). Sarana dan prasarana ynag ada masih jauh dari layak. Kurikulum pendidikan pendidikan kita masig terjebak pada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Dan anggaran pendidikan kita masih jauh dari standart.

Sementara dari luar sistem pendidikan yang ada, arus globalisasi dan informasi juga turut memberi pengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap pendidikan, terutama pendidikan agama. Sehingga fenomena yang muncul adalah menomorduakan pendidikan agama.

Begitu kompleks gambaran permasalahan dalam pendidikan kita, karena selain tantangan internal pendidikan kita juga dihadapkan pada tantangan eksternal sebagai imbas dari globalisasi.

Pendidikan Islam yang identik dengan lembaga pendidikan bernama madrasah memang masih mendapat predikat sekolah “ kelas dua “ dari sebagian masyarakat kita yang notabene mayoritas muslim. Untuk mengubah atau bahkan menghilangkan sama sekali image negatif itu banyak hal yang harus dibenahi, di antaranya adalah perubahan orientasi. Orientasi pendidikan Islam selama ini adalah untuk memahami ilmu agama an sih, seperti yang ditulis pada artikel ini. Kondisi ini membuat pendidikan kita terisolasi dengan sendirinya. Paradigma ini harus diperbaharui, karena al – Qur’an menuntun kita untuk menuntut ilmu seluas – luasnya. Ilmu agama dan ilmu duniawi haruslah konvergen, sebagaimana firman Allah dalam al – Qur’an dalam surat al – Qashash :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu ( kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari ( kenikmatan ) duniawi .”

Jelas sekali tuntunan al –Qur’an di atas, dan untuk saat ini konvergensi ilmu agama dan ilmu umum dalam sisitem pendidikan kita sudah diimplementasikan dalam kurikulum madrasah mulai jenjang ibtidaiyah sampai jenjang aliyah. Bagaimana dengan PTAI ? apakah sudah tersentuh konvergensi ilmu ini? Mungkinkah konvergensi itu bisa diterapkan pada jenjang perguruan tinggi ? Tapi jika diterapkan, bisakah dipertanggungjawabkan secara akademis? Apakah tidak akan menimbulkan mis understanding di kalangan praktisi pendidikan? Mengingat pendidikan kita masih dibelenggu oleh dikotomi.

Harusnya artikel ini juga memberi solusi bagaimana pendidikan Islam keluar dari dikotomi yang selama ini membuat pendidikan kita terisolasi.

Konsep Pendidikan Islam Integratif

Proses internalisasi nilai – nilai PAI pada peserta kita masih belum optimal. Hal ini nampak dari perilaku peserta didik maupun out put lembaga pendidikan Islam yang belum mencerminkan nilai – nilai ajaran Islam. Bagaimana seharusnya proses internalisasi nilai itu berlangsung ? Adakah konsep pendidikan yang mampu mewujudkannya ? Mungkinkah dengan konsep pendidikan yang integratif “ tantangan “ itu bisa terjawab ?

Seperti solusi yang ditawarkan oleh artikel ini bahwa konsep pendidikan islam yang integratif diharapkan mampu menjawab persoalan pendidikan kita dari segi metode yang merupakan bagian dari kurikulum. Tapi buat saya solusi ini mungkin bisa dan mungkin juga tidak bisa mengatasi permasalahan dalam internalisasi nilai – nilai PAI kepada anak didik kita. Jangan lupa bahwa konsep integrasi ini melibatkan lingkungan di mana peserta didik berada secara langsung. Baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Karena ketiga lingkungan ini masing – masing memberi kontribusi dalam membentuk kepribadian mereka.

Lingkungan keluarga mungkin bisa lebih terkontrol dalam mengawasi perkembangan peserta didik karena keluarga adalah scope kecil. Lingkungan sekolah sudah sedikit lebih longgar, karena yang ditangani para pendidik di sekolah begitu banyak peserta didiknya dan mereka datang dari latar belakang sosial budaya yang berbeda. Dan ironisnya, banyak lembaga pendidikan yang hanya berorientasi pada transfer of knowledge dan menyepelekan transfer of value. Lingkungan masyarakat mungkin yang paling “ bebas “,dengan mengatasnamakan HAM yang benar bisa salah dan yang salah bisa jadi benar. Lalu siapa yang bisa mengontrol ? Norma ? atau aturan mungkin ? Jika norma, etika atau aturan itu berhasil diinternalisasikan dengan sempurna mungkin tak perlu dipasang polisi tidur di gang – gang sempit untuk menghalau pengendara kendaraan bermotor. Mungkin juga tak perlu ada lembaga sensor film yang yang menjadi rambu – rambu bagi pecinta kebebasan yang mengatasnamakan seni dan estetika ?

Idealnya, apapun konsep pendidikannya, gandeng tangan antara orang tua sebagai komponen pendidikan di lingkungan keluarga, guru PAI sebagai komponen pendidikan di sekolah serta tokoh agama sebagai komponen pendidikan di lingkungan masyarakat menjadi sangat urgen. Ketiga lingkungan yang terkait langsung dengan pendidikan ini seharusnya memiliki kesatuan visi dan misi dalam membentuk moral anak bangsa melalui internalisasi nilai – nilai pendidikan agama.

Pendidikan Agama Kita

Tulisan Adian Husaini ini seolah memberi peringatan kepada para pendidik dan elemen masyarakat yang peduli pendidikan untuk lebih selektif dalam menentukan buku – buku pelajaran terutama buku pelajaran agama. Seleksi itu dilakukan untuk mengantisipasi mulai dari kesalahan cetak sampai pemasukan ide – ide liberalisme dan sekularisme yang sengaja diselipkan ke dalam buku pelajaran.

Dari artikel ini kemudian terpikir dalam benak saya tentang adanya lembaga “ pen tashih “ buku pelajaran agama untuk mengantisipasi kesalahan cetak sampai ide – ide yang tak seharusnya ada dalam buku pelajaran agama siswa tingkat SD sampai dengan tingkat SMA.

Selain itu yang terpenting dari pendidikan kita adalah pendidik yang harus berkompeten di bidang pendidikan agama. Pendidik kita harusnya memiliki kompetensi personal, sosial, personal, dan kompetensi paedagogi. Lebih – lebih ini pendidik pendidikan agama.

Saya teringat ketika keponakan saya yang masih duduk di bangku taman kanak – kanak. Suatu saat gurunya mengajarkan berhitung dengan menggunakan bahasa arab. Yang tertulis di buku paket bahasa arabnya angka 5 adalah khojisun. Sang guru mengajarkan sesuai yang tertulis di buku paket. Sampai di rumah saya jelaskan kalau yang tertulis di bukunya itu salah, tapi dia tidak mau menerima apa yang saya katakan. Jawabnya “ kata bu guru seperti itu “. Dari contoh yang saya tunjukkan nampak bahwa guru keponakan saya itu tidak mengenal sama sekali pada angka berbahasa arab.Lantas saya berpikir, itu hanya menyangkut angka, bagaimana jika itu menyangkut aqidah, ibadah dan sebagainya seperti yang dicontohkan Adian Husaini dalam tulisannya di atas? Atau bagaimana dengan peserta didik yang lain yang notabene orang tuanya juga tidak mengenal bahasa arab dan dangkal pengetahuan agamanya ? Sungguh sesuatu yang sangat mengkhawatirkan sekali.

Pada akhirnya evaluasi terhadap buku – buku pelajaran dan kompetensi guru sangat urgen demi menjaga kualitas dari pendidikan agama itu sendiri.

Merancang Pendidikan Islam Masa Depan

Judul yang menarik, “ merancang pendidikan Islam masa depan “. Judul tulisan ini seolah makin mempertegas bahwa Pendidikan Islam yang ada sekarang memang sudah benar – benar ketinggalan kereta. Sehingga perlu adanya rekonstruksi pada semua komponen pendidikan. Rekonstruksi ini penting mengingat komponen pendidikan yang ada masih banyak yang belum memenuhi standart. Baik itu pendidik, sarana dan prasarana, dana, dan kurikulum.

Merancang, membuat konsep, membuat model mungkin memang mudah. Tapi jika itu merancang, membuat konsep atau membuat model pakaian, rumah dan sebagainya yang dipraktikkan pada benda – benda tak bernyawa.

Tapi kalau rancangan, konsep, dan model itu diterapkan pada benda bernyawa ( peserta didik ), tunggu dulu !. Peserta didik kita lahir dan berkembang di lingkungan yang berbeda. Dan lingkungan itu sendiri baik keluarga, sekolah dan masyarakat terkadang punya pandangan yang berbeda tentang konsep pendidikan yang berorientasi masa depan.

Harusnya tulisan ini juga memberi konsep mengenai lingkungan pendidikan yang ideal baik itu dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Rancangan pendidikan Islam yang ditulis oleh Bapak Mishad ini mungkin memang sudah ideal. Tapi mampukah komponen pendidikan yang ada sekarang mewujudkannya ?

Islam dan Sekularisme Abad 21

Islam yang menjadi minoritas di belahan dunia ini menjadi sasaran empuk kaum orientalis, terutama dengan ide – ide sekularismenya. Image bahwa Islam adalah agama pedang, Islam adalah agama teroris terus dibangun oleh mereka untuk menjatuhkan Islam di mata internasional.

Kita tidak menutup mata dengan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh organisasi – organisasi yang berbendera Islam, tapi saya berani katakan kalau itu adalah tindakan oknum. Islam adalah agama rahmat, agama perdamaian dan bukan agama kekerasan ! Tapi benarkah aturan hukum Islam yang terlalu ketat membedakan muslim dan non muslim perlu dipertimbangkan lagi secara serius ? Sekali lagi Islam adalah agama rahmat bagi seluruh dunia bukan hanya untuk orang muslim. Jadi apa yang terkandung dalam ajaran Islam akan selalu up to date, tinggal bagaimana kita umat Islam untuk memahami secara lebih mendalam lagi. Benar adanya yang ditulis oleh artikel ini, perlu adanya introspeksi antara kalangan minoritas dan mayoritas untuk memberi ruang baru dalam menemukan kesamaan dalam dunia global yang kompleks, sehingga tidak saling memerangi satu sama lain.

Tapi jangan lupa ide – ide sekularisme akan terus mengancam kehidupan kita umat Islam, melalui berbagai media informasi yang begitu canggih dan setiap saat bisa kita peroleh. Untuk itu waspada dan bentengi diri terutama generasi penerus bangsa dengan pegetahuan agama yang komprehensif tanpa harus menutup diri pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus melaju.

About these ads

1 Komentar

  1. rumahbelajaribnuabbas said,

    3 f 2010 at 6:23 am

    Assalaamu alaikum. Tulisan di atas cukup mewakili pertanyaan banyak orang yang peduli terhadap pendidikan -terutama Islam- di Indonesia. Maka, dengan rendah hati saya menawarkan anda untuk berkunjung ke Blog saya. Mudah-mudahan anda menemukan jawabannya di sana. Barakallahu fiik.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: